Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Dharma Pendidikan Kompasiana MSN Indonesia Bisnis Indonesia Kompas Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Hariyono.org Education Zone Teknologi Informasi Ekonomi Mikro Ekonomi Makro Perekonomian Indonesia KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Materi Umum Kampus # # #
mandikdasmen Depdiknas Kemdiknas BSNP Kamus Bhs Indonesia Info Diknas # # # # #
Affiliate Marketing Info Biz # # # # # # # # #
Bisnis Online Affilite Blogs Affiliate Program Affiliate Marketing # # # # # # # # #

Thursday, 3 November 2011 | 09:20 | 1 Comments

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Think Pair Share

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

Keterkaitan antara Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau sering disebut “Kurikulum 2004” dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ialah jika KBK merupakan suatu desain kurikulum yang dikembangkan berdasarkan seperangkat kompetensi tertentu, yang terdiri atas Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator, dan Materi Pembelajaran, sedangkan KTSP pada dasarnya KBK yang dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat pada KBK.

Standar isi dan standar kompetensi lulusan yang kemudian dioperasionalkan ke dalam bentuk KTSP dilaksanakan mulai tahun pembelajaran 2006/2007. Sekolah boleh belum melaksanakan KTSP pada tahun pembelajaran 2009/2010 dengan izin dari Menteri Pendidikan Nasional. Sekolah yang sudah melaksanakan uji coba KBK / Kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat melaksanakan KTSP secara serentak pada seluruh tingkat kelas mulai tahun pelajaran 2006/2007 (Permen Diknas No. 24 tahun 2006 pasal 2).

Kompetensi yang harus dimiliki siswa mencakup ranah kognitif, efektif dan psikomotorik. Terkait dengan ranah kognitif, pembelajaran diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa, yang meliputi kemampuan berpikir kritis, aplikatif, evaluasi. Sedangkan ranah efektif meliputi sikap antara lain, bermoral jujur, disiplin, konsisten, dan ranah psikomotorik meliputi antara lain trampil, cakap, cekatan.

KTSP dikembangkan berdasarkan pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.

2. Beragam dan terpadu. Beragam artinya KTSP disusun sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Terpadu artinya ada keterkaitan antara muatan wajib, muatan lokal, dan pengembangan diri dalam KTSP.

3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan masa kini dan masa datang.

5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Menyeluruh artinya KTSP mencakup keseluruhan dimensi kompetensi dan bidang kajian keilmuan. Berkesinambungan artinya KTSP antarsemua jenjang pendidikan berjenjang dan berkelanjutan.

6. Belajar sepanjang hayat.

7. Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.

Selain itu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut pembelajaran yang bukan berpusat pada guru, tetapi pada siswa, serta pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka seorang guru harus mampu mengemas model pembelajaran yang membuat siswa tidak tertekan, aktif, kreatif baru, senang.

Pada kenyataannya pembelajaran yang dilakukan masih menggunakan model pembelajaran tradisional yaitu hanya dengan ceramah saja, sehingga pembelajaran lebih berpusat pada guru, dan siswa pasif karena siswa tidak dilibatkan untuk ikut mengkonstruksi ilmu yang diperolehnya akibatnya ilmu kurang bermakna. Oleh karena itu perlu dicoba untuk diterapkan satu model pembelajaran yang dimungkinkan dapat meningkatkan kualitas belajar yang membuat siswa lebih aktif, kreatif berpikir kritis dan senang. Model pembelajaran itu adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share. Model pembelajaran tersebut memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit dengan memberikan waktu kepada siswa agar lebih banyak berpikir untuk menjawab pertanyaan atau masalah dan menekankan saling membantu satu sama lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Think Pair Share Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran IPS (Ekonomi) Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan”.

B. Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan dilakukan pemecahannya melalui kegiatan penelitian ini perlu dipertegas melalui rumusan masalah secara operasional sesuai dengan lingkup penelitian, yaitu sebagai berikut :

“Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan ?” Secara lebih rinci rumusan masalah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan?

2. Bagaimanakah prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan?

3. Bagaimanakah meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) dengan menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian mempunyai tujuan sebagai berikut :

1. Ingin mendeskripsikan dan menganalisis tentang penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan.

2. Ingin mendeskripsikan dan menganalisis tentang prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan.

3. Ingin mendeskripsikan dan menganalisis tentang upaya meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) dengan penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan banyak memberi manfaat :

  1. Bagi penulis/guru

a) Sebagai bahan masukan untuk lebih dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai/tepat dengan materi yang hendak disampaikan dan diharapkan akan mampu memperoleh hasil yang baik, khususnya pada pembelajaran bidang studi IPS (Ekonomi) yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Wilangan.

b) Sebagai bahan masukan untuk lebih dapat meningkatkan mutu hasil pembelajaran IPS (Ekonomi), khususnya di SMP Negeri 1 Wilangan.

  1. Bagi guru

Penggunaan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share diharapkan dapat dijadikan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dalam menyampaikan materi mata pelajaran Ekonomi dan mata pelajaran lainnya.

  1. Bagi sekolah

Sebagai bahan masukan untuk lebih dapat meningkatkan mutu hasil pembelajaran IPS (Ekonomi), khususnya berkenaan dengan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

  1. Bagi Lembaga Pengembang Bidang Pendidikan

Dapat menambah wacana keilmuan di bidang pendidikan, terutama berkenaan dengan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Pembelajaran kooperatif

Ibrahim, dkk (2005:3) mengemukakan bahwa ”pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menuntut kerja sama siswa dan ketergantungan dalam struktur tugas, ujian dan hadiah.”

Berdasarkan pengertian di atas dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kelompok dalam mencapai tujuan.

Agar pembelajaran kooperatif lebih efektif, perlu ditanamkan unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif. Menurut Ibrahim (2005,6) unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut:

a. Siswa harus dapat memiliki persepsi bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.

b. Siswa bertanggung jawad terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya seperti terhadap dirinya sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.

c. Siswa dalam kelompok harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.

d. Siswa haruslah membagi tugas dan juga tanggung jawab yang sama besarnya diantara para anggota kelompok.

e. Siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi anggota kelompok.

f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

g. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individu materi dalam kelompok kooperatif.

2. Konsep pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Menurut Salvin (1995), pembelajaran kontruktivisme dalam pengajaran menerapkan metode pembelajaran kooperatif secara ektensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan konsep-konsep tersebut.

3. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif

Ada empat unsur penting dalam menjalankan pembelajaran kooperatif, yaitu :

a. Saling ketergantungan positif, dalam proses pembelajaran guru menciptakan suasana belajar yang kebergantungan antara sesame, dalam hal (i) Pencapaian tujuan pembelajaran; (ii) Proses pembelajaran dikelas; (iii) Menyelesaikan pekerjaan belajar; (iv) Sumber atau bahan belajar; (v) Berperan proses pembelajaran.

b. Interaksi tatap muka, dalam belajar kelompok, siswa dapat melakukan dialog dengan sesame maupun dengan guru yang berhubungan dengan materi yang dipelejari, dengan interaksi ini, siswa diharapkan dapat diproduktif, kreatif, dan inovatf dalam pembelajaran.

c. Akuntabilitas individu, walaupun proses pembelajaran kooperatif ini menekankan kepada belajar kelompok, namun proses penilaian dalam pembelajaran kooperatif dilakukan dalam rangka melihat kemajuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran yang telah dipelajari. Hasil penilaian tersebut disampaikan guru kepada kelompok, agar anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan, dan yang dapat memberi bantuan. Nilai kelompok didasarkan oleh rata-rata hasil belajar semua. Oleh karena itu, tiap anggota kelompok harus memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompoknya.

d. Ketrampilan menjalin hubungan, penerapan pembelajaran kooperatif dapat menciptakan dan meningkatkan ketrampilan menjalin hubungan antar pribadi, kelompok dan kelas.

4. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif ditandai oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan. Siswa bekerja dalam situasi semangat pembelajaran kooperatif atau membutuhkan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas.

Menurut Ibrahim (2005:67), adapun ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan suatu materi belajarnya.

b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah.

c. Bilaman mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda.

d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.

5. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Menurut Ibrahim (2005:7), pembelajaran kooperatif memiliki tiga tujuan, yaitu ”hasil belajar akademik, penerimaan tehadap perbedaan individu dan pengembangan keterampilan sosial.”

1) Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif ini bertujuan untuk meningkatkan kegiatan atau aktivitas siswa dalam tugas-tugas akademik dan meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik yang berhubungan dengan hasil belajar.

2) Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan pembelajaran kooperatif disini adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bekerja sama tanpa membedakan kemampuan/keahlian sehingga tercipta saling ketergantungan satu sama lain dan belajar untuk menghargai pendapat orang lain.

3) Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan pembelajaran kooperatif disini adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi juga berguna untuk menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kritis dan membantu teman.

6. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif

Menurut Meini Sondang (2004:4) langkah-langkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

Tabel 1

Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif

Fase

Tingkah Laku Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa.

Fase 2

Menyajikan informasi.

Fase 3

Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar.

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasikan atau lewat bahan bacaan.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membentuk setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase 5

Evaluasi.

Fase 6

Memberikan penghargaan.

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil individu dan kelompok.

Sumber : Ibrahim (2005 : 10)

B. Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Think Pair Share

1. Pengertian

Think pair share dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Univertas Maryland pada tahun 1985. Ia mengungkapkan bahwa think pair share merupakan model pembelajaran yang dapat mengganti suasana pola diskusi di dalam kelas yaitu dengan memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk berpikir secara individu, bekerja sama dengan teman lain dan saling berbagi satu sama lain.

2. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share

Dalam bukunya Ibrahim (2005:26-27) langka-langkah pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share yang digunakan Frank Lyman dkk di Universitas Maryland adalah sebagai berikut :

Langkah 1 : Thinking (berpikir). Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bagian dari waktu belajar.

Langkah 2 : Pairing (berpasangan). Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang sudah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal, guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

Langkah 3 : Sharing (berbagi). Guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif dilakukan secara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

3. Teori yang Melandasi Pembelajaran

a) Teori Motivasi

Dalam bukunya Nur, M(2003 : 2), ”motivasi dalam belajar sangat penting dimiliki oleh siswa. Siswa yang memiliki keinginan atau motivasi untuk belajar, dapat saja belajar tentang segala sesuatu.”

Menurut teori motivasi, tiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang didorong oleh sesuatu kekuatan dari dalam diri sesorang untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, motivasi dipandang sebagai suatu proses dalam diri individu yang menyebabkan individu tersebut melakukan sesuatu.

Sardiman (2005:103) mengemukakan :

”Motivasi dapat diklasifikasikan: dilihat dari pembentukannya yakni motivasi bawaan dan motivasi yang dipelajari, menurut pembagian Woodworth dan Marquis terdiri dari: motivasi karena kebutuhan organis, motivasi darurat dan motivasi objektif, ada juga motivasi jasmaniah dan rohaniah. Di samping itu ada motivasi intrinsik dan ekstrinsik”.

Motivasi bawaan adalah motivasi yang dibawa mulai lahir, misalnya dorongan makan, minum. Motivasi yang dipelajari adalah motivasi yang timbul karena dipelajari, misalnya dorongan belajar suatu cabang ilmu pengetahuan. Motivasi karena kebutuhan organis: misalnya kebutuhan untuk makan, minum, bernafas. Motivasi darurat misalnya: dorongan untuk menyelamatkan diri, membalas. Motivasi obyektif adalah Motivasi yang menyangkut kebutuhan untuk eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motivasi jasmaniah, misalnya: refleks, insting otomatis. Motivasi rohaniah misalnya: kemauan. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam setiap individu. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar.

Menurut Nur, M (2003 : 44), ”motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang berasal dari individu itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang berasal dari luar individu.”

Contoh motivasi intrinsik adalah seorang siswa dengan senang hati belajar ekonomi karena merasa sangat berguna bagi siswa tersebut. Hal ini berarti siswa tersebut dimotivasi oleh suatu kebutuhan yang datangnya dari dalam diri siswa tersebut.

Sedangkan contoh motivasi ekstrinsik dapat berupa pujian, nilai, pengakuan, hadiah atau penghargaan orang lain. Misalnya seorang siswa sekuat tenaga berusaha untuk mencapai nilai ujian yang terbaik karena ingin dipuji oleh teman-teman dan gurunya.

Pada pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share, pujian dan pemberian skor merupakan bentuk motivasi ekstrinsik yang mendorong siswa untuk melakukan usaha belajar dan mencapai hasil belajar.

b) Teori Konstruktif

Menurut Brooks, 1990; Leinhardt, 1992; Brown, et al, 1989 dalam Nur, M dan Wikandari, P.R (2004:2) teori konstruktivis adalah ”ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu milik sendiri.” Berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang siswa harus melihat secara terus-menerus memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi.

Dalam bukunya Nur, M dan Wikandari, P.R. (2004:3), teori pembelajaran konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky. Dimana keduanya menekankan bahwa :

”Perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang dipahami diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam memahami informasi-informasi baru dan menggunakan belajar kelompok untuk mengupayakan perubahan konseptual karena adanya perbedaan kemampuan anggota kelompok”.

Piaget juga mengemukakan bahwa siswa secara aktif bertanggung jawab dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri sebagai pengembangan intelektualnya. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus-menerus tumbuh dan berubah pada siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Seperti halnya Piaget, Vygotsky percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi saat individu berhadapan dengan pengalaman baru yang menantang dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh ini. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu mengaitkan pengetahuan dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya dan membangun pengertian baru. Sementara itu keyakinan Vygotsky berbeda dengan keyakinan Piaget dalam beberapa hal penting. Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar belakang sosial dan budaya, sedangkan Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan teman lainmemacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

c) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Keterkaitan antara Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau sering disebut “Kurikulum 2004” dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ialah jika KBK merupakan suatu desain kurikulum yang dikembangkan berdasarkan seperangkat kompetensi tertentu, yang terdiri atas Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator, dan Materi Pembelajaran, sedangkan KTSP pada dasarnya KBK yang dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat pada KBK.

Standar isi dan standar kompetensi lulusan yang kemudian dioperasionalkan ke dalam bentuk KTSP dilaksanakan mulai tahun pembelajaran 2006/2007. Sekolah boleh belum melaksanakan KTSP pada tahun pembelajaran 2009/2010 dengan izin dari Menteri Pendidikan Nasional. Sekolah yang sudah melaksanakan uji coba KBK/ “Kurikulum 2004“ secara menyeluruh dapat melaksanakan KTSP secara serentak pada seluruh tingkat kelas mulai tahun pelajaran 2006/2007 (Permen Diknas No. 24 tahun 2006 pasal 2).

KTSP disusun sebelum tahun pembelajaran dimulai. KTSP disusun bersama-sama oleh guru, komite sekolah/yayasan, konselor (guru BK/BP), dan narasumber, dengan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota, dan disupervisi oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.

KTSP dikembangkan berdasarkan pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.

b. Beragam dan terpadu. Beragam artinya KTSP disusun sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Terpadu artinya ada keterkaitan antara muatan wajib, muatan lokal, dan pengembangan diri dalam KTSP.

c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan masa kini dan masa datang.

e. Menyeluruh dan berkesinambungan. Menyeluruh artinya KTSP mencakup keseluruhan dimensi kompetensi dan bidang kajian keilmuan. Berkesinambungan artinya KTSP antarsemua jenjang pendidikan berjenjang dan berkelanjutan.

f. Belajar sepanjang hayat.

Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.

KTSP berlaku selama masih sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang untuk memenuhi kepentingan lokal, nasional, dan tuntutan global.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyebutkan standar kompetensi untuk pelajaran IPS (Ekonomi) adalah kemampuan memahami pelaku-pelaku ekonomi dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Sedangkan kompetensi dasar untuk materi transaksi jual beli adalah kemampuan menghitung harga pokok, harga jual, rugi/laba usaha ekonomi dan indikatornya adalah :

a. Menghitung harga pokok, harga jual dan rugi/laba dalam perdagangan barang.

b. Menghitung harga pokok, harga jual dan rugi/laba barang produksi.

c. Menghitung jual beli angsuran.

d) Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills)

Kecakapan hidup (life skills) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

Tujuan umum pendidikan kecakapan hidup adalah memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi peserta didik dalam menghadapi perannya di masa mendatang secara menyeluruh.

Tujuan khusus pendidikan kecakapan hidup adalah :

1. Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah, misalnya narkoba dan sosial.

2. Memberikan wawasan yang luas mengenai pengembangan karir peserta didik.

3. Memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

4. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas (broad-based education).

5. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di lingkungan sekolah dan di masyarakat sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.

Kecakapan hidup yang dikembangkan melalui pembelajaran:

1. Kecakapan personal, meliputi :

Beriman kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berpikir rasional, memahami diri sendiri, percaya diri, bertanggung jawab, menghargai dan menilai diri.

2. Kecakapan sosial, meliputi :

Kecakapan bekerjasama, menunjukkan tanggung jawab sosial, mengendalikan emosi, berinteraksi dalam budaya lokal dan global, berinteraksi dalam masyarakat, meningkatkan potensi fisik, membudayakan sikap sportif, membudayakan sikap disiplin, membudayakan sikap hidup sehat.

3. Kecakapan akademik, meliputi :

Menguasai pengetahuan, menggunakan metode dan penelitian ilmiah, bersikap ilmiah, mengembangkan kapasitas sosial untuk belajar sepanjang hayat, mengembangkan berpikir strategis, berkomunikasi secara ilmiah, memperoleh kompetensi lanjut akan ilmu pengetahuan dan teknologi, membudayakan berpikir dan berperilaku ilmiah, membudayakan berpikir kreatif, membudayakan berpikir dan berperilaku ilmiah secara mandiri, menggunakan teknologi, menggunakan pengetahuan, dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat.

4. Kecakapan Vokasional meliputi :

Keterampilan yang berkaitan dengan kejuruan (misalnya menjahit, bertani, beternak, dan otomotif), keterampilan bekerja, keterampilan kewirausahaan, keterampilan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keterampilan merangkai alat.

Pendidikan kecakapan hidup diintegrasikan ke dalam beragam mata pelajaran yang ada di tingkat satuan pendidikan. Misalnya, dalam pembelajaran matematika tidak konsep-konsep matematika yang diajarkan, akan tetapi juga kecakapan lainnya seperti bekerjasama dan brkomunikasi.

e) Tingkat Perkembangan Siswa

Menurut Piaget dalam Zuchdi (1997:6) menyebutkan bahwa ”anak pada tahap operasional, anak dapat berpikir logis.” Sesuai dengan perkembangan kognitif, siswa usia SMP berada pada tahap operasional jadi dapat berpikir secara logis, sehingga dalam pelaksanaan pembelajarannya dapat diberikan model-model pembelajaran untuk berpikir.

Sedangkan perkembangan sosial ada pada tahap kooperatif yang pada tahap tersabut ciri-ciri anak adalah dapat bekerja sama dengan kelompoknya, sehingga model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share (berpikir-berpasangan-berbagi) dapat diterapkan pembelajarannya.

C. Penerapan Pembelajaran Koperatif Dengan Pendekatan Think Pair Share Pada Bidang Studi IPS (Ekonomi)

Keberhasilan belajar dapat dicapai manakala ada interaksi sempurna antara siswa dengan lingkungan. Dari hasil kajian teori menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat dipaksakan diberikan kepada siswa, melainkan harus dialami sendiri oleh siswa. Hal ini membuktikan bahwa dalam proses belajar mengajar, siswa harus berpartisipasi aktif. Dengan demikian aktivitas belajar harus ada dan terjadi pada diri siswa selama proses belajar mengajar berlangsung, seperti memperhatikan yang disampaikan guru, dan bisa mengerjakan tugas dengan baik, juga mendiskusikan materi pelajaran yang sekiranya sulit agar tujuan yang diinginkan dapat dicapai.

Sebagaimana diungkapkan di atas bahwa keaktifan anak dalam mengikuti pelajaran IPS (Ekonomi) di dalam kelas sangat diperlukan, hal ini sangat sejalan dengan konsep cara belajar yang nyata (CTL) yang menuntut keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar baik secara fisik maupun emosionalnya, karena IPS (Ekonomi) menuntut siswa untuk lebih banyak membaca, mengerti dan memahami, serta berlatih melakukan penalaran-penalaran di bidang ekonomi.

Dengan demikian jelas, bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut pembelajaran yang bukan berpusat pada guru, tetapi pada siswa, serta pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka seorang guru harus mampu mengemas model pembelajaran yang membuat siswa tidak tertekan, aktif, kreatif baru, senang. Oleh karena itu, model pembelajaran think pair share dimungkinkan dapat meningkatkan kualitas belajar yang membuat siswa lebih aktif, kreatif berpikir kritis dan senang. Model pembelajaran tersebut memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit dengan memberikan waktu kepada siswa agar lebih banyak berpikir untuk menjawab pertanyaan atau masalah dan menekankan saling membantu satu sama lain.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Setting penelitian

Setting Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian dan siklus PTK, sebagai berikut :

  1. Tempat Penelitian

Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang. Adapun pertimbangan penulis mengambil subyek penilitiann tersebut dimana siswa kelas VIII telah mampu dan memiliki kemandirian dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di SMP Negeri 1 Wilangan, Kabupaten Nganjuk dengan pertimbangan Kepala Sekolahnya adalah teman mengajar di perguruan tinggi saya bekerja dan yang menjadi guru yang melaksanaan pembelajaran (tindakan) adalah mantan mahasiswa dan sudah berpengalaman lebih dari 15 tahun mengajar, sehingga memudahkan dalam mencari data, peluang waktu yang luas dan Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran di sekolah tersebut.

  1. Waktu Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan, yakni dari tahap persiapan hingga pelaporan hasil penelitian dilakukan selama 4 bulan, yakni mulai bulan Juni sampai dengan September 2010. Adapun waktu untuk melaksanakan tindakan / pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan pada setengah semester gasal (semester 1) mulai dari siklus I, Siklus II dan Siklus III, yaitu bulan Agustus hingga September 2010. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah dan karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif dikelas.

  1. Siklus PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan melalui 3 (tiga) siklus untuk melihat prestasi belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran IPS (Ekonomi) dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share dalam kegiatan belajar mengajar.

B. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah adalah siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang dengan komposisi perempuan 22 orang dan laki-laki 18 orang.

C. Pendekatan dan jenis Penelitian

Penelitian ini mengandung tindakan yaitu mengefektifkan pembelajaran IPS (Ekonomi) dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan test sebagai instrument kunci. Dengan demikian, penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif.

D. Rancangan Penelitian

Proses penelitian ini merupakan siklus sebagaimana dinyatakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (1992) yang diawali dengan mengembangkan perencanaan, melakukan tindakan sesuai rencana, melakukan observasi terhadap tindakan, dan melakukan refleksi.

Berdasarkan prinsip prinsip penelitian tindakan, prosedur penelitian ini melalui langkah langkah sebagai berikut:

  1. Kegiatan awal

Peneliti mengadakan orientasi tentang latar belakang SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk dan pembelajaran IPS (Ekonomi).

  1. Kegiatan analisis dan temuan .

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan permasalahan.

  1. Merencanakan tindakan

Peneliti bersama guru melakukan : (a) diskusi strategi pembelajaran Bahasa Inggris. (b) menyusun rencana tindakan siklus 1. (c) menyusun rencana pembelajaran siklus 1.

  1. Tindakan Siklus 1

Tahap pembelajaran dengan memanfaatkan dialog dialog meliputi : (a) Membaca dialog. (b) mengartikan dialog. (c) menampilkan dialog

  1. Refleksi siklus 1

Apabila dalam siklus 1 ditemui hambatan, maka disusun siklus 2 sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang masih mengalami hambatan. Pelaksanaan tindakan pada siklus 2 ini berfokus pada refleksi siklus 1.

  1. Kegiatan refleksi siklus 2

Hasil observasi pada kegiatan pembelajaran siklus 2 akan menentukan rencana tindakan siklus berikutnya. Bila masih ada hambatan pada siklus 2 maka akan dibuat rencana tindakan selanjutnya, yaitu siklus 3.

E. Persiapan PTK

Persiapan sebelum Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dan dibuat berbagai input instrumental yang akan dibangun untuk memberikan perlakuan dalam PTK, yaitu remcana pembelajaran yang akan dijadikan PTK, yaitu Standar Kompetensi (SK); Kemampuan memahami pelaku – pelaku ekonomi dalam kegiatan ekonomi masyarakat, dan Kompetensi Dasar (KD); memahami Kegiatan Pokok Ekonomi Masyarakat, selain itu akan dibuat perangkat pembelajaran berupa lembar kerja siswa dan daftar kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen.

F. Data dan Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan adalah data nominal, yaitu mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share dan nilai prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi).

Sumber data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri dari beberapa sumber , yakni :

1. Siswa, untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

2. Guru, untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran model kooperatif dengan pendekatan think pair share dan hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar.

3. Teman sejawat, dimaksudkan sebagai sumber data untuk melihat implementasi PTK secara komprohensif dari sisi siswa maupun guru.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang relevan, valid dan realibel. Agar memperoleh data yang valid dikumpulkan melalui cara/teknik berikut ini:.

1. Tes Hasil Belajar

Digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa melalui pre test - post test tentang pengetahuan siswa dalam pembelajaran Kegiatan Pokok Ekonomi.

2. Observasi (pengamatan)

Teknik ini digunakan oleh kolaborator (peneliti) untuk mengobservasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan ini peneliti mencatat kejadian-kejadian yang muncul selama proses belajar mengajar.

Teknik observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang keaktifan siswa, respon siswa dan hambatan-hambatan dalam proses belajar-mengajar. Adapun pelaksanaannya dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap guru selama kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada pelajaran IPS (Ekonomi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan.

3. Wawancara (interview)

Teknik ini digunakan oleh peneliti dan kolaborator untuk mengetahui respon siswa secara langsung dalam menerima pelajaran dan mengenai hambatan yang timbul selama proses belajar-mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share. Adapun pelaksanaannya dengan melakukan wawancara antara pengamat (peneliti) dan guru, antara guru dan siswa. Pelaksanaan wawancara dilakukan di luar kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pedoman wawancara.

  1. Diskusi

Diskusi antara guru, kepala sekolah dan temansejawat untuk refleksi hasil siklus PTK

  1. Jurnal

Teknik ini digunakan oleh peneliti setiap kali selesai guru mengimplementasikan tindakan. Jurnal tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi diri bagi peneliti untuk mengungkap aspek:

a. respon siswa terhadap penggunaan model pembelajaran think pair share;

b. situasi pembelajaran; dan

c. kekurangpuasan peneliti terhadap pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan.

Selain peneliti, siswa juga membuat jurnal setiap kali mengikuti kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk mengungkapkan:

a. respon siswa (baik yang positif maupun negatif) terhadap penggunaan model pembelajaran think pair share;

b. metode pembelajaran yang disukai siswa; dan

c. kemampuan peneliti dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan penelitian, sebagai berikut:

1. Tes/Ujian : Menggunakan butir soal untuk mengukur hasil belajar siswa.

2. Obsevasi : Mneggunakan lembar observasi untuk mengukur motivasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar IPS (ekonomi).

3. Wawancara : Menggunakan panduan wawancara atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

G. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan dari pelaksanaan siklus PTK dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Sebelum data penelitian dianalisis dilakukan tabulasi data secara kuantitatif berdasarkan hasil tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus. Hasil tindakan pada setiap siklus dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui persentase peningkatan prestasi belajar pada pelajaran IPS (Ekonomi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

Hasil belajar : Dengan menggunakan analisis nilai latihan dan nilai ulangan harian. Sedangkan implementasi tindakan dalam pembelajaran kooperatif pendekatan think pair share dengan mengalisis tingkat keberhasilannya.

Data disaring melalui proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen yang dirancang untuk penelitian ini. Instrumen meliputi : test hasil belajar, observasi, wawancara dan jurnal.

Untuk memudahkan analisis data yang diperoleh siswa tentang hasil belajar melalui pree-test dan past-test diberi nilai 0-100. data yang diperoleh dalam pengolahan data kemudian dianalisis untuk untuk dilihat rata-rata kelasnya.

1. Menghitung rata-rata nilai yang ditarik 40 siswa

Rumus rata-rata adalah jumlah nilai yang dicapai siswa secara keseluruhan dibagi jumlah siswa.

clip_image003

X = Mean

N = Jumlah siswa

Sn = Jumlah nilai siswa

2. Kriteria nilai yang ditentukan

Nilai 95-100 = istimewa

Nilai 85-94 = baik sekali

Nilai 75-84 = baik

Nilai 65-74 = cukup

Nilai 0-65 = kurang

3. Indikator ketuntasan

Untuk mengetahui ketuntasan belajar digunakan kriteria menurut Depdikbud. (1994) yang dimaksud ketuntasan belajar sebagai berikut :

a. seorang siswa disebut tuntas belajar bila ia telah mencapai daya serap ³ 65% atau menacapai nilai ³ 65%.

b. Suatu kelas disebut tuntas belajar apabila 70% siswa atau lebih dalam kelas mencapai nilai ³ 65%

H. Indikator Kinerja

Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang akan dilihat indikator kerjanya dalam proses pembelajaran dengan model kooperatif pendekatan think pair share, yakni siswa dan guru.

  1. Siswa

Tes : Nilai latihan dan rata-rata nilai ulangan harian

Observasi : Keaktifan siswa dalam proses

  1. Guru

Observasi : Hasil observasi

I. Prosedur Penelitian

Penelitian ini berupa penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan menempuh prosedur sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan Tindakan, meliputi kegiatan tim (dosen, guru, dan kepsek) :

a. Mengadakan sharing ideas dengan guru-guru SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk untuk mendapatkan berbagai pertimbangan dan masukan mengenai penerapan pendekatan proses dalam pembelajaran ekonomi dan mengadakan identifikasi masalah terkait dengan proses belajar mengajar di SMP Negeri 1 Wilangan.

b. Berdassarkan hasil kegiatan identifikasi dan analisis masalah bekerjasama dengan guru dan kepala sekolah, kemudian diadakan rancangan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan penerapan model pembelajaran think pair share yang telah ditetapkan. Dengan demikian penulis akan melaksanakan proses pembelajaran dengan kompetensi dasar memahami kegiatan pokok ekonomi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam dalam mata pelajaran IPS (ekonomi).

Untuk melaksanakan penelitian, maka disusunlah penelitian secara umum yaitu :

1) Menetapkan perencanaan, menentukan tujuan pembelajaran dan tujuan perbaikan pembelajaran.

2) Menetapkan indikator keberhasilan penelitian sesuai KKM, yaitu 70% dari keseluruhan siswa yang menjadi subjek penelitian.

3) Merancang lembar observasi dan menyampaikan materi tindak lanjut.

4) Menyusun kegiatan yang terdiri dari :

a) Memilih bahan yang relevan untuk pelaksanaan model pembelajaran think pair share.

b) Penyiapan atau menyusun perangkat pembelajaran tentang pembelajaran ”Kegiatan Pokok Ekonomi”, yang meliputi silabus, RPP dengan skenario pembelajaran dengan model Think Pair Share (kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan akhir).

c) Memilih metode pembelajaran

d) Memilih alat peraga atau media yang sesuai dengan materi pembelajaran.

e) pengembangan bahan ajar

f) Menyusun alat penilaian (berupa latian soal, pembahasan latian soal, lembar kerja siswa (LKS), dan menyusun soal pre-test dan post-test), untuk mencapai tujuan perbaikan proses pembelajaran.

g) Menyiapkan lembar pengamatan (pedoman observasi) terhadap proses pembelajaran ”Kegiatan Pokok Ekonomi” dengan model pembelajaran think pair share serta pedoman penilaian terhadap prestasi belajar siswa

2. Tahap Implementasi Tindakan (action)

Dalam pelaksanaan PTK ini, mekanisme kerjanya diwujudkan dalam bentuk siklus (direncanakan 3 siklus), yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi. Karena pendekatan think pair share ini meliputi 6 fase, maka pelaksanaan keenam fase tersebut dianggap sebagai satu siklus. Pelaksanaan keenam fase tersebut dianggap sebagai satu siklus.

1) Rancangan siklus I

a) Tahap perencanaan, mencakup kegiatan menyiapkan perngkat pembelajaran dan merancang skenario pembelajaran ”Kegiatan Pokok Ekonomi” dengan pendekatan think pair share 6 fase untuk penerapan model pembelajaran think pair share.

b) Tahap pelaksanaan, Guru melaksanakan tindakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun dengan mengadakan pembelajaran yang dalam satu siklus ini ada 2 kali tatap muka, yang masing-masing 2 x 40 menit, sesuai skenario pembelajarn dan RPP pada siswa Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan oleh guru kelas, sedangkan peneliti lain (dosen dan kepala sekolah) melakukan observasi terhadap proses pembelajaran dan wawancara kepada beberapa siswa setelah pembelajaran berakhir.

c) Tahap observasi, ketika guru melaksanakan tindakan, dosen (peneliti) dan kepala sekolah sebagai kolaborator melakukan pengamatan terhadap situasi yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung (aktivitas guru dan siswa). Observasi diarahkan pada poin-poin dalam pedoman yang telah disiapkan peneliti. Selain itu, untuk memperoleh data yang akurat, peneliti juga melakukan wawancara dengan para siswa mengenai poin-poin tertentu yang dirasa perlu ditanyakan pada siswa untuk mendapatkan data yang lebih lengkap. Hal-hal yang perlu diamati dan dicatat oleh kolaborator dalam lembar observasi, di antaranya: (a) respon siswa, (b) perubahan yang terjadi selama proses pembelajaran; (c) keterampilan guru dalam menggunakan model pembelajaran think pair share, baik dalam tindakan awal, tindakan inti, maupun tindakan akhir; dan (d) kesesuaian antara rencana dan implementasi tindakan.

d) Tahap analisis dan refleksi, dilakukan oleh dosen, guru, dan kepala sekolah dengan cara menganalisis hasil pekerjaan siswa, hasil observasi, serta hasil wawancara. Hasil analisis data dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui efektiktivitas penggunaan model pembelajaran think pair share. Langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator (Dosen dan Kepala Sekolah). Hasil analisis data tersebut juga sangat penting dan berharga sebagai bahan untuk melakukan refleksi bersama kolaborator dan guru. Jika penggunaan model pembelajaran think pair share dinilai belum memberikan hasil yang signifikan, peneliti (dosen dan kepala sekolah) memberikan masukan dan bersama-sama dengan guru melakukan langkah-langkah perbaikan untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Peneliti (dosen), guru dan kepala sekolah melakukan replanning untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil refleksi bersama kolaborator. Dengan demikian, analisis dilakukan terhadap proses dan hasil pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis tersebut akan diperoleh kesimpulan bagian fase mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan fase mana yang telah memenuhi target. Pada saat melakukan refleksi, kolaborator memberikan masukan kepada peneliti berdasarkan hasil pengamatan yang telah dicatat untuk melakukan langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. Selanjutnya guru melaksananakan tindakan pada siklus II sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun.

Penelitian tidak perlu dilakukan lagi pada siklus berikutnya jika hasil analisis data menunjukkan pengingkatan yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan, yaitu 70% (28 siswa) dari 40 siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk.

2) Rancangan siklus II dan III

Pada siklus kedua dan ketiga dilakukan tahapan-tahapan seperti pada siklus pertama tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus pertama (refleksi), sehingga kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus pertama tidak terjadi pada siklus kedua, begitru juga dengan siklus III. Dalam hal ini peneliti menganalisis data hasil penggunaan model pembelajaran think pair share. Hasil analisis data dibandingkan dengan hasil tes siklus I untuk mengetahui efektiktivitas penggunaan model pembelajaran think pair share. Langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator. Jika penggunaan model pembelajaran think pair share dinilai sudah memberikan hasil yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan, penelitian dinyatakan selesai dan tinggal melakukan tindakan pemantapan kepada siswa (subjek penelitian). Namun, jika hasil analisis data belum menunjukkan hasil yang signifikan, peneliti kembali melakukan refleksi bersama guru untuk merencanakan tindakan perbaikan (replanning) yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati., dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Ibrahim, Muslimin., dkk 2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University

Press Unesa.

Hasibuan J.J. & Moedjiono, 2000, Proses Belajar Mengajar, Ban­dung: PT. Remaja Rosda Karya.

Lexy, J, Moleong, Dr, MA, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung Remaja Rosdakarya.

MGMP SMP Nganjuk, 2004, Silabus dan Penilaian Kurikulum SMP Bidang Studi IPS (Ekonomi), Nganjuk : MGMP SMP Nganjuk.

Mulyasa, E, Dr, M, Pd, 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Bandung Remaja Rosdakarya.

Nana Sugiana dan Ibrahim, 1989, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru.

Nur Muhamad., Wikandari, Prima Retno. 2004. Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Surabaya : University Press Unesa.

Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sondang Meini. 2004. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Bintek Pembelajaran Inovatif Bagian Proyek Peningkatan Pendidikan Dasar IV Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur 2004.

STKIP PGRI. 2007. Pedoman Penulisan dan Ujian Skripsi. Nganjuk : STKIP PGRI.

Artikel Terkait:

1 comments:

Selina Diana said...

This is the prime second I even have glimpsed your content and do harking back to to mention to you – it's terribly pleasing to observer that i acknowledgment your arduous work. though if you expected did it in laurels straightforward methodology that's able to be terribly persuading title loans. whereas over all i actually projected you and secured can foresee a allotmentment of mails like this. articulate feeling you most.

Post a Comment

 
Copyright © 2010 - All right reserved by KTI PTK Collections | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.