Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Dharma Pendidikan Kompasiana MSN Indonesia Bisnis Indonesia Kompas Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Hariyono.org Education Zone Teknologi Informasi Ekonomi Mikro Ekonomi Makro Perekonomian Indonesia KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Materi Umum Kampus # # #
mandikdasmen Depdiknas Kemdiknas BSNP Kamus Bhs Indonesia Info Diknas # # # # #
Affiliate Marketing Info Biz # # # # # # # # #
Bisnis Online Affilite Blogs Affiliate Program Affiliate Marketing # # # # # # # # #

Monday, 8 March 2010 | 07:31 | 0 Comments

Bab 3. Masalah dan Variabel Penelitian

Penelitian yang sistematis diawali dengan suatu persoalan. John Dewey menyatakan bahwa langkah pertama dalam metode ilmiah ialah pengakuan adanya suatu kesulitan, hambatan atau masalah yang menjadi perhatian peneliti.

Pemilihan dan perumusan masalah adalah suatu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian. Penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas dan dirumuskan dengan baik. Seorang peneliti mula-mula harus menentukan suatu pokok persoalan penyelidikan yang bersifat umum. Setelah dipilih pokok persoalan yang bersifat umum kemudian dipersempit sampai menjadi persoalan yang lebih khusus. Kemudian peneliti harus menentukan pertanyaan yang harus dijawab.

Perumusan masalah dan penentuan pertanyaan yang harus dijawab, biasanya peneliti memandang mudah tapi tidak demikian halnya bila dikaitkan dengan suatu prosedur penyelidikan ilmiah. Karena hal ini harus memenuhi kriteria suatu penyelidikan ilmiah yang memfokus pada suatu pemecahan persoalan dan jawaban ataupun pernyataan yang harus dikemukakan.

A. Hakekat Masalah Penelitian

Dalam hal menyangkut hakekat masalah penelitian, ini berkaitan dengan jenis dan permasalahan yang menjadi suatu variabel ataupun unit penelitian yang ditentukan oleh peneliti. Setelah diketahui apakah itu jenis penelitian diskriptif, korelasi ataupun yang lainnya. Perumusan masalah tersebut menyesuaikan dengan persoalan yang menjadi fokus dan bahan pertimbangan yang harus dipecahkan oleh peneliti.

Pertama-tama yang perlu dipersiapkan sebelum menulis, yaitu menemukan persoalan atau sering yang disebut dengan tema (pokok pembicaraan). Pokok persoalan yang ditulis harus jelas agar nantinya di dalam mengejakannya tidak salah tafsir dan salah di dalam mengumpulkan data serta arah tulisan tersebut. Gorys Keraf dalam setya Yuwana Sudikan (1983 : 3) merumuskan tentang tema adalah suatu pemberitaan yang khusus, sebuah pengalaman, proses, atau sebuah ide.

Sumber permasalahan persoalan ini berkaitan dengan “bagaimana peneliti dapat menemukan suatu persoalan penelitian”. Tiga sumber persoalan penelitian yang penting adalah pengalaman, deduksi dari suatu teori, dan teori yang relevan. Dan sebenarnya sumber-sumber persoalan itu ada disekitar kita, hal ini tergantung kemampuan untuk mengakomodasi dengan interesistis daripada penulis. Segala sesuatu yang menjadi perhatian dan menarik, pengalaman dimasa lampau atau masa kini bisa dijadikan sebagai tema tulisan.

Dalam hal menemukan suatu permasalahan sebetulnya tidak terlalu sulit, apabila peneliti mempunyai interest terhadap suatu lingkungannya. Dengan demikian diperlukan kemampuan dari peneliti untuk mengakomodasi suatu kondisi pada lingkungan, baik lingkungan kerja, keluarga, bahkan dalam suatu bidang ilmu atau interdisiplinnya.

Setelah diperoleh suatu persoalan atau obyek penelitian yang diangkat menjadi suatu variabel secara tentatif (sementara), persoalan-persoalan itu perlu dievaluasi atau diidentifikasi. Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan kemampuan, pengetahuan dan supaya permasalahannya lebih terfokus yang berkaitan dengan cara pemecahan lebih lanjut.

Idealnya masalah tersebut hendaknya merupakan suatu masalah yang pemecahannya akan memberikan sumbangan yang berarti bagi bangunan pengetahuan yang baru. Dan suatu persoalan harus merupakan persoalan yang akan membawa kepada persoalan-persoalan yang baru dan pada penelitian-penelitian berikutnya. Permasalahan hendaknya merupakan persoalan yang harus bisa diteliti dan juga harus sesuai dengan peneliti dalam hal : daya tarik, kemam-puan dan efisiensi dalam pelaksanaannya.

Dengan penentuan berbagai kriteria tersebut, ternyata bila masih mengalami suatu kesulitan di dalam menentukan masalah penelitian, untuk itu perlu mengkaji perbagai pengalaman yang terkait atau ada buhungannya dengan bidang pekerjaan atau profesi dan disiplin ilmu yang dimiliki. Setelah mendapatkan masalah, perlu adanya suatu langkah mengidentifikasi persoalan yang telah didapat. Hal ini diperlukan supaya hasil kesimpulan yang didapat melalui suatu analisis tidak bias. Karena bagaimanapun seseorang memiliki suatu keterbatasan dalam hal penelitian ataupun yang ada hubungannya dengan efisiensi pelaksanaan penelitian.

Hal di atas perlu dilakukan mengingat masalah sifat dan jumlahnya sangat komplek, sehingga tak mungkin peneliti akan meneliti semua dan secara serentak. Suatu permasalahan sering melibatkan begitu banyak faktor atau variabel, sehingga berada diluar jangkauan kemampuan pengetahuan peneliti. Selain itu suatu penelitian yang menggunakan permasalahan yang spesipik akan mengha-silkan suatu kesimpulan yang sangat berati atau bermakna. Karena hasil dari suatu penyelidikan demikian, akan menghasikan suatu teori baru, atau pengetahuan baru yang bersifat ilmiah.

Permasalahan sekarang, tentu memikirkan bagaimana kita akan mendapatkan permasalahan penelitian yang baik, dan yang nantinya akan di angkat menjadi suatu topik penelitian. Fenomena dan variabel dibidang sosial utamanya yang menyangkut banyak variabel. Untuk itu harus diperhatikan berbagai kriteria pemi-lihan variabel, yang antara lain :

1. Variabel yang dipilih harus menarik untuk dipecahkan dan urgen.

Dari berbagai variabel sebagai suatu persoalan setelah diidentifikasi, perlu dikaji lebih lanjut apakah dan yang mana dari variabel itu yang sangat menarik untuk dipecahkan melalui suatu penyelidikan ilmiah. Urgen berarti penting untuk segera diteliti atau mendesak untuk segera diteliti. Dan selain itu pemili-hannya hendaknya mempunyai ruang lingkup yang terbatas, makin sempit batasannya makin baik. Dipihak lain tentang suatu pokok persoalan yang baik harus memiliki suatu kejelasan, kesatuan, dan mengandung keaslian.

2. Masih baru / up to date / hangat untuk dibicarakan dan aktual

Permasahan yang diajukan harus masih baru, dalam arti permasalahan itu terjadi pada saat akan dilakukan suatu penyelidikan. Karena terkait dengan pelaporan dan pengkomunikasian hasil pada publik. Demikian juga yang aktual, dalam arti masalah itu bukan merupakan intuisi dan fiktif dari kegiatan mengada-ada. Namun masalah itu memang ada dan terbukti serta bisa dipertanggungjawabkan secara nalar. Dengan pengkomunikasian hasil peneli-tian, orang lain yang membaca akan mersa tertarik dengan hanya membaca judul penelitiannya saja, bahkan akan mengkaji lebih lanjut terhadap hasil-hasil penelitiannya.

3. Tersedia kepustakaan sebagai kerangka teoritis

Sebagai aktualisasi daripada pendekatan deduktif, dimana suatu pernyataan atau hipotesis yang merupakan dugaan atau jawaban sementara, keberada-annya harus didukung oleh suatu teori-teori yang relevan. Hal demikian untuk mendukung kerangka dari hasil pemikiran yang menggunakan daya nalar dan logika berpikir seseorang yang kadang menemui suatu kebuntuan. Dan lebih dari itu tentu saja dikaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh peneliti itu sendiri yang masih dangkal akan suatu pengetahuan terhadap permasalahan penelitian yang akan dipecahkannya, dalam arti masih dangkal. Dan dari segi pengalaman dan dalam hal penguasaan suatu pengetahuan masih minim, hingga orang lain kurang bisa mempercayai akan hasil suatu pemikirannya. Untuk itu perlu didukung oleh suatu teori yang sudah mapan dan diterima oleh khalayak umum.

4. Bisa diukur / bisa dioperasionalkan

Variabel yang diajukan dalam penelitian harus dipikirkan lebih dahulu. Apakah variabel yang dijadikan sebagai obyek penelitian itu bisa diopera-sionalkan lebih lanjut atau tidak, serta bisa diukur atau tidak. Hal ini karena terkait dengan pendekatan induktif, dimana suatu kebenaran itu harus didu-kung oleh fakta-fakta atau kenyataan empiris. Dan ini diperoleh dengan pengumpulan data-data yang berkait dengan variabel tersebut. Karena pada hakekatnya mengumpulkan data itu sama dengan mengukur variabel. Untuk itu variabel yang diajukan harus bisa diukur. Lebih dari itu variabel yang diajukan harus dipikirkan terlebih dahulu kelanjutannya dalam hal kelangkah penggunaan suatu metoda penelitian lebih lanjut.

5. Bermanfaat dan diperoleh hasil penelitian yang akan membuahkan sesuatu yang baru bagi ilmu pengetahuan.

Hasil penelitian diharapkan tidak saja atau sekedar sebagai syarat atau pelengkap tugas akhir untuk menempuh suatu gelar akademik pada jenjang pendidikan tertentu. Lebih dari itu hasil kesimpulan akan menjadi suatu teori yang baru dalam lingkup pengetahuan. Begitu juga pemecahan itu akan memberikan suatu manfaat yang diperlukan, baik oleh peneliti sendiri, lembaga atau institusi dimana dilaksanakan suatu penelitian atau bagi orang lain yang membutuhkannya.

6. Peneliti sendiri tertarik dan memiliki kemampuan

Dalam melaksanakan penelitian harus didukung oleh kemampuan peneliti dalam hal penguasaan terhadap suatu permasalahan yang terkait dengan profesi atau sfesifikasi dan disiplin ilmunya. Dan bahkan harus memiliki suatu pengetahuan dalam hal metodologi penelitian itu sendiri. Tanpa ini, maka hasil penelitian akan sangat tidak berarti, karena hasilnya kurang bisa dipertang-gunjawabkan secara ilmiah. Hingga orang lain yang membaca akan merasa enggan, karena melihat suatu hasil atau karya ilmiah yang tidak sistematis.

Di halaman 21 akan dikemukan suatu cara untuk mengukur suatu variabel menjadi dalam bentuk instrumen pengumpul data. Dengan alasan bilamana pembuatan suatu instrumen tanpa memperhatikan cara-cara pengukuran variabel maka data yang diperoleh adalah tidak mencerminkan apa yang seharusnya diukur atau data yang diperoleh. Karena instrumen yang dibuat tidak mencerminkan kriteria pembuatan instrumen atau kriteria validitas logis. Lebih lanjut bisa dibaca pada bab teori tentang teknik pengumpulan data.

B. Variabel Penelitian

Variabel Penelitian merupaka suatu bangunan pengertian yang memiliki nilai dan bisa diukur. Kerlinger (1986) dalam Aminul Amin (1997) variabel itu merupakan simbol atau lambang yang padanya kita lekatkan bilangan atau nilai. Berarti variabel itu merupakan suatu konsep yang bisa diukur dan ada variasi nilainya. Karena nantinya variabel yang demikiannlah yang akan diukur melalui suatu teknik pengumpulan data.

Untuk itu supaya variabel bisa dioperasionalkan harus dipikirkan apakah tersedia indikator-indikator beserta sumber datanya. Karena hal ini akan ditentu-kan dimensi-dimensi pengukurannya.

Tipe-tipe variabel dapat dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri pengukurannya dan peranannya dalam hubungannya dengan variabel.

1. Berdasar Perannya

Dalam hubungannya dengan peranan daripada variabel, memiliki peran yang berbeda-beda. Ada yang menjadi fokus utama dan ada yang hanya sebagai pengendali suatu fariabel utama. Adapun variabel itu adalah :

a. Variabel Pokok

1). Variabel bebas (independent variable)

tabel3

Yaitu suatu variabel yang memiliki suatu peran mempengaruhi tentang baik-jelek, tinggi-rendah dari variabel yang lain, yaitu variabel tergantung.

2). Variabel terikat (dependent variable)

Variabel terikat atau variabel tergantung Yaitu suatu variabel yang tidak memiliki peran sebagaimana variabel bebas, karena keberadaan variabel itu sangat tergantung daripada peranan variabel bebas.

a. Variabel Kontrol

1). Variabel penekan

Yaitu suatu variabel yang menekankan hubungan diantara variabel pokok, hal ini bertujuan supaya peneliti dalam pengukurannya dapat melihat dapat mengamati suatu variabel yang menjadi fokus utamanya. Dalam arti dari hubungan yang semula tidak begitu tampak, maka dengan adanya variabel ini akhirnya hubungan itu akan nampak jelas.

2). Variabel pengganggu

Variabel ini menjadi kebalikan daripada variabel penekan, karena perannya atau keberadaan variabel ini hanya sebagai pengacau dari pengamatan suatu variabel utama dalam penyelidikan.

b. Variabel intervening (antara)

Keberadaan variabel ini diantara dua hubungan variabel pokok, dengan adanya variabel ini akhirnya pengamatan akan menjadi samar. Karena keberadaannya, variabel ini tidak begitu tampak akan tetapi didalam ilmu-ilmu sosial yang memang tidak bisa dipisahkan secara pasti, akhirnya akan menjadi pembayang akan variabel pokok tersebut.

1. Berdasar ciri pokoknya

a. Variabel diskrit

Yaitu suatu variabel yang nilainya tidak bisa dinyatakan dalam bentuk pecahan atau desimal dibelakang koma. Variabel diskrit hanya bisa dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat.

b. Variabel kategori

Variabel ini yang membagi responden menjadi suatu kategori-kategori yang tidak saling tumpang tindih. Variabel ini terdiri variabel dikotomi, yaitu suatu variabel yang tidak lebih dari dua variabel, contoh pria dan wanita. Sedangkan variabel yang lebih dari dua kategori dinamakan varia-bel politomi, misalkan agama, status perkawinan, status sekolah dll.

Sebagai langkah dalam menentukan variabel tidak terlepas dari permasa-lahan-permasalahan yang sudah diidentifikasi oleh peneliti. Dari permasalahan yang sudah dipilih, lalu akan ditentukan variabel mana yang akan dijadikan atau akan diangkat menjadi suatu variabel penelitian. Akan tetapi hal demikian tidaklah mudah, perlu suatu pengetahuan atau cara untuk mengemukakan suatu variabel penelitian. Karena variabel ini nantinya yang akan dicari datanya melalui suatu pengukuran.

Untuk lebih mempermudah, bisa dilihat ilustrasi pada halaman 23. Dimana X semagai notasi daripada variabel bebas, sedangkan Y sebagai variabel terikat.

Dari ilustrasi pada halaman 23 akan nampak, bahwa variabel terikat (Y), misalkan saja Prestasi akademik dari siswa. Maka ternyata prestasi akademik sebagai variabel terikat, bahwasannya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menyebabkan baik-jeleknya suatu prestasi akademik siswa. Namun demikian sesuai dengan petunjuk di muka, bahwa tidak semua variabel yang diketahui atau yang ada itu akan dijadikan sebagai variabel penelitian semua. Akan tetapi sesuai dengan kriteria penentuan masalah dan variabel maka harus diperhatikan, mana-mana yang sesuai dengan keberadaan daripada peneliti utamanya adalah tingkat pengetahuan dan penguasaan metodologinya.

tabel2

Di bawah ini akan dicontohkan beberapa variabel pendidikan, sastra dan ekonomi.

Contoh variabel Pendidikan

1. Kurikulum

2. Alat evaluasi

3. Proses Belajar Mengajar

4. Administrasi & Suvervisi

5. Bimbingan & Penyuluhan

6. Kecerdasan

7. Motivasi

8. Metode Pengajaran

9. Kepribadian

10. Lingkungan

11. Media Pengajaran

12. Kualitas Guru

13. Kreatifitas Guru

14. Pengalaman

15. Kondisi Sosial Ekonomi

16. Alat Peraga

17. Pengelolaan

18. Keaktipan

19. Lembar kerja siswa

Contoh variabel Sastra

1. Latar Belakang Sosiologis Penciptaan

2. Penokohan

3. Setting

4. Alur cerita

5. Ilustrasi

6. Unsur gaya

7. Unsur instrinsik

8. Peranan (tokoh)

9. Penggunaan kosa kata

10. Materi pragmatik

11. Menganalisa kalimat transformasi

12. Perbandingan tema

13. Kemampuan siswa dalam struktur kalimat

14. Pendekatan komunikatif

Contoh variabel ekonomi

1. Kompetensi sales

2. Omset penjualan

3. Modal usaha

4. Peningkatan produksi

5. Intensitas promosi

6. Profesionalisme

7. Rentabilitas

8. Analisa finansial

9. Inventory Controle

10. Expence Controle

11. Proses penyusunan laporan

12. Posisi likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas

13. Manajemen persediaan

14. Manajemen piutang

15. Analisa break even point

16. Faktor produksi

17. Volume penjualan

18. Diversifikasi produk

19. Keberhasilan pemasaran

20. Saluran distribusi

21. Service

22. Kepuasan konsumen

23. Harga

24. Segmentasi pasar

25. Intensif

26. Informasi akuntansi

27. Manajemen pemasaran

28. Pembelanjaan

29. Koordinasi

30. Pengawasan

31. Proses produksi

32. Pengalaman

33. Pengetahuan

34. Partisipasi

35. Pembagian kerja

36. Produktifitas

37. Efisiensi

38. Efektifitas

B. Cara Mengemukakan Masalah

Permasalahan dapat didefinisikan sebagai suatu statemen mengenai suatu jarak antara rencana dengan pelaksanaan, antara aspirasi dengan kenyataan, antara cita-cita dengan harapan, dan antara das sollen dan das sein (ujianto dalam Aminul Amin, 1997). Jarak diantara itu merupakan suatu ketimpangan atau kesenjangan. Permasalahan penelitian pada dasarnya berkenaan dengan jawaban atas pertanyaan apa yang hendak diteliti atau apa yang seharusnya dicari. Permasalah boleh jadi sebagai suatu kesenjangan antara apa yang seharusnya terjadi dengan kenyataan yang terjadi sebenarnya.

Jadi permasalahan penelitian menyangkut apa yang seharusnya dicari dalam suatu penelitian. Hingga dengan demikian karena jumlah dan jenis permasalahan itu banyak, maka sesudah masalah diidentifikasi atau dipilih tugas berikutnya adalah merumuskan permasalahan tersebut dalam bentuk yang dapat diteliti atau dapat dipecahkan persoalannya dan atau dicari jawabannya. Permasalahan yang akan dikemukakan dalam suatu penelitian harus mengikuti kriteria-kriteria seperti yang diutarakan dimuka. Perlu ditandaskan, bahwa masalah penelitian merupakan inti dasar atau utama dalam pelaksanaan penelitian. Karena pada hakekatnya pelaksanaan penelitian itu tidak lain adalah bertujuan untuk memecahkan suatu permasalahan.

Dimana sebagai garis besarnya saja, setelah masalah ditentukan baru kemu-dian dicari jawabannya. Entah menggunakan pendekatan atau cara deduktif atau induktif. Namun pada akhirnya tujuannya sama yaitu menemukan suatu pemecahan atau jawaban dari suatu persoalan tersebut.

Dalam menjabarkan suatu permasalahan yang baik harus memperhatikan :

1. Menerangkan dengan jelas apa yang akan dipecahkan

Penjabaran permasalahan penelitian harus memperhatikan terhadap suatu tujuan dilaksanakannya suatu penelitian. Karena hal ini sebagai petunjuk arah pencarian jawabannya. Dengan demikian diperlukan suatu kejelasan secara rinci masalah-masalah yang harus dikemukakan. Sehingga tidak akan dipero-leh suatu kesimpulan ganda bahkan keluar jalur dari apa yang seharusnya dicari pemecahannya.

2. Membatasi ruang lingkup studi itu pada suatu permasalahan yang khusus.

Pembatasan ruang lingkup permasalahan perlu ditegaskan secara rinci. Hal ini bertujuan supaya hasil penelitiannya tidak bias. Selain itu ada kerangka pemikiran menuju pemecahan masalah yang lebih mendalam. Sehingga akan memenuhi kriteria validitas sebagaimana dalam teknik pengumpulan data, dalam artian bisa mencari pemecahan apa yang seharusnya dipecahkan.

Artikel Terkait:

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 - All right reserved by KTI PTK Collections | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.