Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Dharma Pendidikan Kompasiana MSN Indonesia Bisnis Indonesia Kompas Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Hariyono.org Education Zone Teknologi Informasi Ekonomi Mikro Ekonomi Makro Perekonomian Indonesia KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Materi Umum Kampus # # #
mandikdasmen Depdiknas Kemdiknas BSNP Kamus Bhs Indonesia Info Diknas # # # # #
Affiliate Marketing Info Biz # # # # # # # # #
Bisnis Online Affilite Blogs Affiliate Program Affiliate Marketing # # # # # # # # #

About Me »

My Photo
A lecturer at institutions of higher education teacher, I want to develop methods and models of technology-based learning and information. I am motivated to new knowledge, such as the Internet and a growing online business is extraordinary. For that advice and constructive criticism and information about science from friends means a lot to me. My vision of "simplicity in life and can share knowledge on others" let us "think globally act locally"
  • A family is everything to me, my wive and daughters is a spirit in my life, without them life is nothing, I'll miss you...
  • the girls are very funny, they are the spirit of life, when I'm tired they always cheer me up, when I'm away I always missed them, my little daughters always laugh, I'll miss you...
  • A family is everything to me, my wive and daughters is a spirit in my life, without them life is nothing, I'll miss you...
  • A family is everything to me, my wive and daughters is a spirit in my life, without them life is nothing, I'll miss you...
  • A family is everything to me, my wive and daughters is a spirit in my life, without them life is nothing, I'll miss you...
  • the girls are very funny, they are the spirit of life, when I'm tired they always cheer me up, when I'm away I always missed them, my little daughters always laugh, I'll miss you...
  • the girls are very funny, they are the spirit of life, when I'm tired they always cheer me up, when I'm away I always missed them, my little daughters always laugh, I'll miss you...

Wednesday, 30 November 2011 | 06:52 | 0 Comments

Sistematika Penulisan TA (studi kasus biologi Unpad)

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Maksud dan Tujuan
1.4 Kegunaan
1.5 Metodologi Penelitian
1.6 Kerangka Pemikiran
1.7 Hipotesis
1.8 Waktu dan Tempat
BAB II Tinjauan Pustaka
BAB III Bahan dan Metode Penelitian
3.1 Alat
3.2 BAhan
3.3 Metode
BAB IV Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan
BAB V Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
Daftar Pustaka

sumber : biologi-sains

Klick «« Artikel Selengkapnya »»

Thursday, 3 November 2011 | 09:49 | 0 Comments

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

(1) mengidentifikasi dan merumuskan masalah;

(2) menganalisis masalah;

(3) merumuskan hipotesis tindakan;

(4) membuat rencana tindakan dan pemantauannya;

(5) melaksanakan tindakan dan mengamatinya;

(6) mengolah dan menafsirkan data; dan

(7) melaporkan.

1.  Identifikasi dan Perumusan Masalah

Masalah dalam PTK terkait dengan proses pembelajaran yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku guru, mitra peneliti  dan siswa. Contoh permasalahan yang di-PTK-kan:

  1. metode mengajar, mungkin mengganti metode tradisional dengan metode penemuan;
  2. strategi belajar, menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar mengajar;
  3. prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik;
  4. penanaman atau perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;
  5. pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri;
  6. pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku; dan
  7. administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion, 1980: 181).

Kriteria dalam penentuan masalah:

  1. Masalah harus penting bagi orang yang mengusulkannya dan sekaligus signifikan dilihat dari segi pengembangan lembaga atau program;
  2. Masalahnya hendaknya dalam jangkauan penanganan. Jangan sampai memilih masalah yang memerlukan komitmen terlalu besar dari pihak para penelitinya dan waktunya terlalu lama;
  3. Pernyataan masalahnya harus mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab dan faktor, sehingga pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini daripada berdasarkan fenomena dangkal

Contoh masalah yang diidentifikasi sebagai fokus penelitian tindakan:

(1)    rendahnya kemampuan mengajukan pertanyaan kritis di kalangan Siswa Kelas IX;

(2)    rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris;

(3)    rendahnya kualitas pengelolaan interaksi guru-siswa-siswa;

(4)    rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa tersebut; dan    

Rumusan Masalah Penelitian

Inti suatu masalah adalah kesenjangan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan. Oleh karena itu rumusan masalah harus mengandung deskripsi tentang kenyataan yang ada dan keadaan yang diinginkan.

No

Masalah

Rumusan

1

Rendahnya kemampuan

mengajukan pertanyaan kritis di kalangan Siswa SMPN Kelas IX

Siswa SMPN Kelas IX mestinya telah mampu mengajukan pertanyaan yang kritis, tetapi dalam kenyataannya petanyaan mereka lebih bersifat klarifikasi

2

Rendahnya keterlibatan siswa

dalam proses pembelajaran

bahasa Inggris

Siswa kelas bahasa Inggris mestinya terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar menggunakan bahasa Inggris lewat kegiatan yang menyenangkan, tetapi dalam kenyataan mereka sangat pasif.

3

Rendahnya kualitas pngelolaan interaksi guru-siswa-siswa

Pengelolan interaksi guru-siswa-siswa mestinya memungkinkan setiap siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, tetapi dalam kenyataan interaksi hanya terjadi antara guru dengan beberapa siswa.

4

Rendahnya kualitas proses

pembelajaran bahasa Inggris

ditinjau dari tujuan

mengembangkan keterampilan

berkomunikasi dalam bahasa

tersebut

Proses pembelajaran bahasa Inggris mestinya memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan bahasa tsb. secara komunikatif, tetapi dalam kenyataannya kegiatan pembelajaran terbatas pada kosakata, lafal dan struktur.

2. Analisis Masalah

Analisis masalah perlu dilakukan untuk mengetahui demensi-dimensi masalah yang mungkin ada untuk mengidentifikasikan aspek-aspek pentingnya dan untuk memberikan penekanan yang memadai.

Analisis masalah melibatkan beberapa jenis kegiatan, bergantung pada kesulitan yang ditunjukkan dalam pertanyaan masalahnya; analisis sebab dan akibat tentang kesulitan yang dihadapi, pemeriksaan asumsi yang dibuat kajian terhadap data penelitian yang tersedia, atau mengamankan data pendahuluan untuk mengklarifikasi persoalan atau untuk mengubah perspektif orang-orang yang terlibat dalam penelitian tentang masalahnya. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan melalui diskusi di antara para peserta penelitian dan fasilitatornya, juga kajian pustaka yang berhubungan.

3.  Perumusan Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan,melainkan hipotesis tindakan. Rumusan hipotesis tindakan memuat tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan.

Contoh hipotesis tindakan akan diberikan di sini. Situasinya adalah kelas yang siswa-siswanya sangat lamban dalam memahami bacaan. Berdasarkan analisis masalahnya peneliti menyimpulkan bahwa siswa-siswa tersebut memiliki kebiasaan membaca yang salah dalam memahami makna bahan bacaannya, dan bahwa ‘kesiapan pengalaman’ untuk memahami konteks perlu ditingkatkan. Maka hipotesis tindakannya sebagai berikut: “Bila kebiasaan membaca yang salah dibetulkan lewat teknik-teknik perbaikan yang tepat dan ‘kesiapan pengalaman’ untuk memahami konteks bacaan ditingkatkan, maka para siswa akan meningkat kecepatan membacanya.”

No

Masalah

Rumusan

Hipotesis Tindakan

1

Rendahnya kemampuan

mengajukan pertanyaan kritis di kalangan Siswa SMPN Kelas IX

Siswa SMPN Kelas IX mestinya telah mampu mengajukan pertanyaan yang kritis, tetapi dalam kenyataannya petanyaan mereka lebih ,bersifat klarifikasi

Jika tingkat kekritisan pertanyaan Siswa SMPN Kelas IX dijadikan penilaian

kualitas partisipasi mereka setelah

diberi contoh dengan

pembahasannya, kemampuan mengajukan  pertanyaan kritis

mereka akan meningkat.

2

Rendahnya keterlibatan siswa

dalam proses pembelajaran

bahasa Inggris

Siswa kelas bahasa Inggris mestinya terlibat secara aktif dalam

kegiatan belajar menggunakan bahasa Inggris lewat kegiatan yang

menyenangkan, tetapi dalam kenyataan mereka sangat pasif.

Dengan kegiatan yang

menyenangkan di mana mereka

belajar menggunakan bahasa

Inggris, keterlibatan siswa dalam

kegiatan belajar akan meningkat,

dan begitu juga motivasi belajar

mereka.

3

Rendahnya kualitas proses

pembelajaran bahasa Inggris

ditinjau dari tujuan

mengembangkan keterampilan

berkomunikasi dalam bahasa

tersebut

Proses pembelajaran bahasa Inggris mestinya memberi kesempatan

kepada siswa untuk belajar menggunakan bahasa tsb. secara

komunikatif, tetapi dalam kenyataannya kegiatan pembelajaran

terbatas pada kosakata, lafal dan struktur.

Jika kegiatan pembelajaran

difokuskan pada pengembangan

kompetensi komunikatif

berbahasa Inggris, kualitas pembelajaran akan meningkat.

sumber : Aina Mulyana

Klick «« Artikel Selengkapnya »»

Proposal PTK PKN

A. Judul Penelitian : Penerapan Model Moral Reasoning Untuk Meningkatkan Keberanian Mengemukakan  Pendapat Dan Mengambil Keputusan Pada Mata Pelajaran PKn Kelas IX SMP Negeri 22 Samarinda

B. Bidang Kajian : Desain Dan Strategi Pembelajaran Di Kelas

C. Pendahuluan

Guru memiliki peranan sangat strategis dalam proses pembelajaran. Peran startegis guru dalam proses pembelajaran ini memiliki dampak pada kompetensi yang dicapai siswa (pengetahuan, sikap, keterampilan). Kompetensi siswa akan berkembang secara optimal tergantung bagaimana guru memposisikan diri dan menempatkan posisi siswa dalam pembelajaran. Selama ini dalam pembelajaran, siswa diposisikan sebagai obyek, sedangkan guru memposisikan diri sebagai subyek pembelajaran. Akibatnya guru lebih aktif dan dominan dalam proses pembelajaran. Seharusnya, guru dalam pembelajaran lebih memposisikan diri sebagai fasilitator, motivator, dan mediator sehingga siswa dapat mengembangkan kompetensinya.

Berdasarkan wawancara dan pengamatan dengan guru PKn bahwa metode pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah ceramah diselingi tanya jawab, pemberian tugas dan diskusi. Penempatan posisi dan pemilihan metode dalam pembelajaran yang kurang tepat ini berpengaruh terhadap iklim kelas. Seringnya menggunakan metode ceramah yang diselingi tanya jawab, pemberian tugas, dan diskusi yang kurang terarah dalam pembelajaran mengakibatkan siswa kurang aktif. Kegiatan yang dilakukan siswa hanya mendengar dan kadang-kadang mencatat, itupun hanya dilakukan oleh sebagian kecil siswa. Sedangkan, siswa yang lain lebih banyak berbicara dengan teman duduk sebangku.

Guru menyadari bahwa tindakan tersebut mengakibatkan situasi dan kondisi yang kurang mendukung untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Oleh kerena itu, dalam pembelajaran dengan cepat merubah startegi dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa. Maksudnya adalah agar siswa lebih perhatian terhadap materi yang dijelaskan. Namun demikian, pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi pembelajaran yang ditanyakan kepada siswa kurang direspon siswa dan hasilnya tidak seperti yang diharapkan, hanya sebagian kecil siswa yang menjawab, sedangkan siswa yang lain lebih banyak berdiam diri.

Pembelajaran satu arah yang dikembangkan guru selain membosankan dan kurang efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran juga berakibat pada aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Akibat dari penerapan metode ceramah yang diselingi tanya jawab, pemberian tugas antara lain siswa memiliki sikap negatif terhadap pembelajaran, kurang berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, malas bertanya dan menjawab pertanyaan, kurang serius dalam mengikuti pelajaran, kurang berminat dan termotivasi dalam belajar, serta kurang menghargai dan bekerjasama sesama siswa. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di kelas bahwa penggunaan metode pembelajaraan satu arah mengakibatnya siswa yang berani mengemukakan pendapat minim hanya 15 % .

Permasalahan sebagaimana tersebut di atas harus segera diatasi atau di teliti sehingga akan meningkatkan kompetensi siswa antara lain keberanian mengemukakan pendapat, keberanian mengambil keputusan dengan pertimbangan moral, keberanian bertanya dan menjawab, kemampuan bekerjasama dan menghargai orang lain yang akhirnya akan meningkatkan hasil dan mutu pembelajaran. Namun, jika tidak segera diatasi atau diteliti akan memperoleh kerugian antara lain rendahnya kompetensi yang akan dicapai siswa (pengetahuan, sikap, keterampilan), hasil belajar, mutu pembelajaran dan mutu pendidikan. Oleh karena itu, hal tersebut memerlukan kreatif dan inovatif dalam merancang pembelajaran mulai dari menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) sampai dengan mengaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran sehingga akan menghasilkan siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran, berpikir kreatif, kritis dan rasional, serta memiliki hasil belajar yang baik.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas peneliti ingin meneliti melalui penelitian tindakan kelas tentang penerapan model Moral Reasoning untuk meningkatkan keberanian siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan serta menggunakan pertimbangan moral. Diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sehingga kompetensi dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.

D. Perumusan Dan Pemecahan Masalah

1. Perumusan Masalah

Berdasarkan analisis masalah pada latar belakang, yang menjadi akar penyebab siswa dalam kegiatan pembelajaran pasif, memiliki sikap negatif terhadap pembelajaran, kurang berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, malas bertanya dan menjawab pertanyaan, kurang serius dalam mengikuti pelajaran, kurang berminat dan termotivasi dalam belajar, serta kurang menghargai dan bekerjasama sesama siswa adalah guru belum menerapkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran salah satunnya Model Moral Reasoning.

Ryan, (2003) Pembelajaran memecahkan masalah dengan menggunakan moral reasoning ternyata memberikan pengaruh iklim belajar dan kemampuan mengemukakan pendapat secara positif serta memberikan dukungan kepada pendidikan karakter.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut : Apakah model moral reasoning dapat meningkatkan keberanian mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral dalam kegiatan pembelajaran ?

Rumusan masalah tersebut dapat dirinci dalam pertanyaan penelitian

sebagai berikut:

(1) Bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model moral reasoning?

(2) Bagaimana aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dengan model moral reasoning?

(3) Bagaimana perkembangan moral siswa dengan menggunakan model moral reasoning?

2. Pemecahan Masalah

Untuk mewujudkan siswa yang dapat berfikir secara rasional, kritis, dan kreatif yakni keberanian mengemukakan pendapat, mengambil keputusan yang disertai dengan pertimbangan moral memerlukan lingkungan belajar yang mendukung antara lain strategi atau model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensinnya.

a. Berkaitan dengan hal tersebut solusi yang diajukan untuk memecahkan masalah adalah sebagai berikut :

Penerapan model Pembelajaran Moral Reasoning Kohlberg. Model ini diharapakan dapat membantu siswa untuk berani mengemukakan pendapat, mengambil keputusan dengan alasan serta menggunakan pertimbangan moral, kemampuan bekerjasama, dan menghargai orang lain. Selain itu, model ini dapat meningkatkan keterampilan guru dalam mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran di kelas.

b. Untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dilakukan beberapa cara antara lain:

1. Guru membuat cerita yang dilematis baik dari kejadian di masyarakat sekitar maupun cerita dilematis buatan guru sendiri ”DILEMA MORAL” kemudian dibagikan kepada semua siwa dalam kelas

2. Guru membentuk kelompok diskusi untuk mendiskusikan delima moral.

3. Guru memberikan kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk mengemukakan pendapatnya dan mengambil keputusan berkaitan dengan dilema moral yang diberikan kepada siswa

4. Guru menghargai semua pendapat dan keputusan maupun argumentasi yang disampaikan oleh siswa baik yang kritis maupun yang kurang

5. Guru memberikan pujian pada siswa yang telah berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan argumentasi yang diajukan

6. Guru memberi motivasi kepada siswa yang belum berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, agar ada keberanian untuk berpendapat dan mengambil keputusan

c. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dilakukan cara cara sebagai berikut:

Guru menyampaikan kepada siswa bahwa aktifitas yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran (mengemukakan pendapat, menghargai orang lain, bekerja sama dalam diskusi) akan dinilai. Pada intinya dilema moral adalah membantu siswa agar perkembangan moralnya tidak terhambat sihingga dapat mengambil keputusan dengan pertimbangan moral sesuai dengan perkembangan moral yang dimilki.

3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan dicapai dari Peneltian ini adalah :

1.Tujuan Umum

a) Meningkatan kualitas pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 22 Samarinda.

b) Memperoleh strategi pembelajaran yang kreatif, inovatif, menyenangkan dan menantang

2. Tujuan khusus

a. Bagi guru

1. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun dan mengembangkan program pembelajaran serta melaksanakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa.

2. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas untuk perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran dalam mata pelajaran yang diasuhnya.

b. Bagi siswa

1. Meningkatkan keberanian mengemukakan pendapat

2. Meningkatkan keberanian mengambil keputusan dengan alasan dan pertimbangan moral

3. Mengetahui tingkat perkembangan moral siswa

4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru dan siswa dalam meningkatkan mutu pembelajaran, mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif, meningkatkan aktivitasnya dalam pembelajaran dan meningkatkan keterampilan guru dalam pembelajaran

Secara khusus manfaat langsung yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :

1. Siswa dapat meningkatkan kopetensinnya khususnya keberanian mengemukakan pendapat, mengambil keputusan dengan pertimbangan moral, menghargai dan kerjasama dengan orang lain

2. Pembelajaran lebih efektif dan efisien, kreatif, bermakna dan berfokus pada siswa.

3. Mendorong penerapan inovasi pembelajaran agar pembelajaran lebih bermutu, menarik dan bermakna, produktif, dialogis, dan manusiawi.

E. Kajian Pustaka

Siswa sebagai generasi penerus bangsa perlu dibina secara terus menerus. Dengan demikian, diharapan mereka memiliki kemampuan berfikir secara rasional, kritis, dan kreatif, sehingga mampu memahami berbagai wacana kewarganegaraan; memiliki ketrampilan intelektual dan keterampilan berpartisipasi secara demokratis dan bertanggung jawab; memiliki watak dan kepribadian yang baik, sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

1. Model Moral Reasoning

Untuk mewudkan siswa yang dapat berpiki rasional kritis, kreatif, dan memiliki watak yang baik sebagimana tersebut di atas diperlukan pendidikan demokrasi dan pendidikan nilai dan moral. Ada Lima pendekatan pendidikan nilai yaitu: (1) Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), dan (5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) .(Zakaria: 2001)

Untuk meningkatkan kemampuan siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral, salah satunya menggunakan pendekatan atau model perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach) yang terkenal dengan Moral reasoning. Model atau Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1989).

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et. al., 1976; Banks, 1985).

Pendekatan perkembangan kognitif pertama kali dikemukakan oleh Dewey (Kohlberg 1971, 1977). Selanjutkan dikembangkan lagi oleh Peaget dan Kohlberg (Freankel, 1977; Hersh, et. al. 1980). Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai berikut: (1) Tahap "premoral" atau "preconventional". Dalam tahap ini tingkah laku seseorang didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau sosial; (2) Tahap "conventional". Dalam tahap ini seseorang mulai menerima nilai dengan sedikit kritis, berdasarkan kepada kriteria kelompoknya. (3) Tahap "autonomous". Dalam tahap ini seseorang berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal pikiran dan pertimbangan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya menerima kriteria kelompoknya.

Piaget berusaha mendefinisikan tingkat perkembangan moral pada anak-anak melalui pengamatan dan wawancara (Windmiller, 1976). Dari hasil pengamatan terhadap anak-anak ketika bermain, dan jawaban mereka atas pertanyaan mengapa mereka patuh kepada peraturan, Piaget sampai pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan kemampuan kognitif pada anak-anak mempengaruhi pertimbangan moral mereka.

Kohlberg (1977) juga mengembangkan teorinya berdasarkan kepada asumsi-asumsi umum tentang teori perkembangan kognitif dari Dewey dan Piaget di atas. Seperti dijelaskan oleh Elias (1989), Kohlberg mendefinisikan kembali dan mengembangkan teorinya menjadi lebih rinci. Tingkat-tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg dimulai dari konsekuensi yang sederhana, yang berupa pengaruh kurang menyenangkan dari luar ke atas tingkah laku, sampai kepada penghayatan dan kesadaran tentang nilai-nilai kemanusian universal. Lebih tinggi tingkat berpikir adalah lebih baik, dan otonomi lebih baik daripada heteronomi. Tahap-tahap perkembangan moral diperinci sebagai berikut:

1 : Pra-konvensional

Pada tingkatan ini, anak merespon aturan tradisi, label baik-buruk; benar-salah, dengan menginterpretasi label dalam pemahaman hedonistik dan konsekuensi dari tindakan. Tingkatan ini juga menunjukkan bahwa individu menghadapi masalah moral dari segi kepentingan diri sendiri. Seseorang tidak menghiraukan apa yang dirumuskan masyarakat, akan tetapi mementingkan konsekuensi konsekuensi dari perbuatannya ( hukuman, pujian, penghargaan ). Anak cenderung menghindari perbuatan yang menimbulkan resiko. Tingkatan ini dibagi menjadi dua tahap :

Tahap 1 : Orientasi pada hukuman dan Kepatuhan. Jadi, alasan anak pada tahap ini bersifat phisik. Apa yang benar adalah bagaimana menghindari hukuman.

Tahap 2 : Orientasi pada instrumental. Tindakan yang benar apakah sudah sesuai atau memenuhi kebutuhan seseorang berdasarkan persetujuan Pada tahap ini adil dipandang sebagai sesuatu yang bersifat balas budi, saling memberi.

2. Konvensional

Pada tingkatan ini anak mendekati permasalahan dari segi hubungan individu- masyarakat. Seseorang menyadari bahwa masyarakat mengharapkan agar ia berbuat sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Perhatian kepada nilai keluarga, kelompok atau bangsa diterima sebagai nilai dalam dirinya. Terdapat konformitas interpersonal.

Tahap 3: Orientasi “good boy-nice girl”. Persetujuan antar personal. Menjadi orang yang diharapkan , dan tingkah laku yang baik adalah menyenangkan atau menolong orang lain . Pertimbangannya adalah “perhatian” (ia berbuat baik). Motivasi perbuatan moral pada tingkatan ini ialah keinginan memenuhi apa yang diharapkan orang yang dihargai. Pada diri anak telah timbul kesadaran bahwa orang lain mengharapkan kelakuan tertentu daripadanya.

Tahap 4 : Orientasi Kesadaran sosial. Perilaku yang benar adalah memenuhi kewajiban ( kesadaran imperatif ). Pada tingkatan ini, anak tidak lagi bertindak berdasarkan harapan orang yang dihormati, namun apa yang diharapkan oleh masyarakat umum. Dalam tingkatan ini hukum tampil sebagai nilai yang utama, yang dapat mengatur kehidupan masyarakat.

3.Post-Konvensional

Ada usaha yang jelas untuk memiliki moral dan prinsip. Memandang prinsip sebagai identifikasi dirinya.

Tahap 5: Orientasi Kontrak sosial dan hak-hak individu. Tindakan yang benar ditentukan dalam istilah kebenaran individu secara umum dan standard yang sudah diuji secara kritis dan disetujui oleh seluruh masayarakat. Suatu perasaan kesetiaan kepada hukum demi kesejahteraan semua orang dan hak-haknya. Pada tahap ini memandang kelakuan baik dari segi hak dan norma umum yang berlaku bagi individu yang telah diselidiki secara kritis dan diterima baik oleh seluruh masyarakat Kewajiban moral dipandang sebagai kontrak sosial. Komitmen sosial dan legal dipandang sebagai hasil persetujuan bersama dan harus dipatuhi oleh yang bersangkutan.

Tahap 6 : Orientasi Prinsip Ethis Universal. Kebenaran ditentukan oleh prinsip ethis di dalam dirinya berdasar pada pemahaman logika universal ( keadilan, kesamaan hak dan kepatutan sebagai makluk individu). Seseorang bertindak menurut prinsip universal. Seseorang wajib menyelamatkan jiwa orang lain.

Asumsi-asumsi yang digunakan Kohlberg (1971,1977) dalam mengembangkan teorinya sebagai berikut: (a) Bahwa kunci untuk dapat memahami tingkah laku moral seseorang adalah dengan memahami filsafat moralnya, yakni dengan memahami alasan-alasan yang melatar belakangi perbuatannya, (b) Tingkat perkembangan tersusun sebagai suatu keseluruhan cara berpikir. Setiap orang akan konsisten dalam tingkat pertimbangan moralnya, (c) Konsep tingkat perkembangan moral menyatakan rangkaian urutan perkembangan yang bersifat universal, dalam berbagai kondisi kebudayaan.

Sesuai dengan asumsi-asumsi tersebut, konsep perkembangan moral menurut teori Kohlberg memiliki empat ciri utama. Pertama, tingkat perkembangan itu terjadi dalam rangkaian yang sama pada semua orang. Seseorang tidak pernah melompati suatu tingkat. Perkembangannya selalu ke arah tingkat yang lebih tinggi. Kedua, tingkat perkembangan itu selalu tersusun berurutan secara bertingkat. Dengan demikian, seseorang yang membuat pertimbangan moral pada tingkat yang lebih tinggi, dengan mudah dapat memahami pertimbangan moral tingkat yang lebih rendah. Ketiga, tingkat perkembangan itu terstruktur sebagai suatu keseluruhan. Artinya, seseorang konsisten pada tahapan pertimbangan moralnya. Keempat, tingkat perkembangan ini memberi penekanan pada struktur pertimbangan moral, bukan pada isi pertimbangannya.

2. Penerapan Moral Reasoning Dalam Pembelajaran

Pendekatan perkembangan kognitif (moral reasoning) mudah digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, karena pendekatan ini memberikan penekanan pada aspek perkembangan kemampuan berpikir. Oleh karena, pendekatan ini memberikan perhatian sepenuhnya kepada isu moral dan penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pertentangan nilai tertentu dalam masyarakat, penggunaan pendekatan ini menjadi menarik. Penggunaannya dapat menghidupkan suasana kelas. Teori Kohlberg dinilai paling konsisten dengan teori ilmiah, peka untuk membedakan kemampuan dalam membuat pertimbangan moral, mendukung perkembangan moral, dan melebihi berbagai teori lain yang berdasarkan kepada hasil penelitian empiris.

Proses pengajaran nilai menurut Model moral reasoning didasarkan pada delima moral, dengan menggunakan metode diskusi kelompok. Diskusi itu dilaksanakan dengan memberi perhatian kepada tiga kondisi penting. Pertama, mendorong siswa menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi. Kedua, adanya dilemma, baik dilemma hipotetikal maupun dilemma faktual berhubungan dengan nilai dalam kehidupan seharian. Ketiga, suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik (Superka, et. al. 1976; Banks, 1985). Menurut Reimer (1983 : 84) terdapat 10 isu moral universal (1). Laws and rules, (2) Conscience, (3) Personal roles of affection, (4) Authority, (5) Civil rights, (6) Contract, trust, and justice in exchange (7) Punishmen, (8) The Value of life , (9) Property rights and values, (10) Truth

Goleman (2003) menjelaskan bahwa moral reasoning lebih bersifat Emosional inteligensi, sehingga emosional inteligensi mencerminkan karakter. Dengan demikIan, menurut peneliti implementasi model moral reasoning dapat membantu siswa untuk berpikir kritis dan mengelola emosi yang akhirnya menjadi warga yang baik. Oleh karena itu, agar siswa dapat mengemukakan pendapat dan dapat membuat keputusan dengan pertimbangan moral yang lebih tinggi (intelektual emosional) guru ataupun siswa harus kreatif dan enovatif untuk mencari atau membuat suatu masalah yang dilematis yang di diskusikan di dalam kelas

Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak:

a. Memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa

b. Memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya

c. Mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai

d. Membantu siswa belajar berpikir secara kritis

e. Membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman

f. Membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah

g. Mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.

Lebih lanjut Roestiyah (1982: 56), menjelaskan bahwa metode diskusi dan kerja kelompok cukup efektif. Metode diskusi menurutnya cukup efektif karena dua hal yaitu dapat mempertinggi partisipasi siswa secara individual dan dapat mempertinggi kegiatan kelas sebagai keseluruhan. Sedangkan metode kerja kelompok memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut (1) dapat memberi kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas masalah, (2) memberikan kepada siswa lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah, (3) dapat mengembangkan kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan bersdiskusi, (4) memungkinkan guru untuk memperhatikan individu siswa akan kebutuhan belajar, (5) para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran dan mereka akan berpatisipasi dalam diskusi (6) dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan rasa menghargai kepada temannya yang telah menolong kelompok dalam mencapai tujuanya.

Menurut penulis dengan memunculkan isue moral yang delimatis dan membahasnya dalam diskusi kelompok sebagaimana tuntutan model delima moral maka akan mendorong siswa untuk berani mengemukakakan pendapat, mengambil keputusan, menghargai orang lain, dan kemauan bekerjasama sehingga siswa akan dapat berpikir secara kritis dengan tetap menghargai dan bekerjasama dengan orang lain

3. Peran Guru Dalam Pembelajaran Model Moral Reasoning

Peran guru dalam model moral reasoning sangat strategis terutama dalam memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Peran guru dalam fase diskusi dengan menggunakan model moral reasoning adalah: 1) memastikan anak didik memahami dillema yang disodorkan 2). Membantu anak didik menghadapi komponen-komponen moral yang terdapat dalam permasalahan 3). Mendorong dasar pemikiran anak didik bagi keputusan yang akan diambil dan 4). Mendorong anak didik untuk saling berinteraksi. ( Hersh, 1982 ; Fraenkel, 1977; Nasution, 1989 ). Sedangkan, langkah-langkah diskusi moral dalam penalaran moral menurut Fraenkel ( 1977) adalah sebagai berikut:

1). Menunjukkan isu moral. Anak didik mengidentifikasi situasi dalam dillema moral yang membutuhkan resolusi dengan pertanyaan : “seharusnya, semestinya”, baik ceritera dillema moral yang diberikan oleh guru, maupun bahan informasi yang digali sendiri oleh anak didik melalui membaca di media massa untuk dibahas dan dilaporkan.

2). Mengajukan pertanyaan : “ mengapa” dan jawaban :” alasan moral saya “

3). Memperumit situasi, dengan menambah masalah untuk meningkatkan kompleksitas konflik.

Dengan demikian, menurut peneliti hal yang harus dilakukan guru dalam proses diskusi adalah meenyajikan cerita yang mengandung dilemma. Dalam diskusi siswa didorong untuk menentukan posisi apa yang sepatutnya dilakukan serta mengajukan alasan-alasannya. Kemudian meminta siswa mendiskusikan tentang alasan-alasan itu dengan teman-temannya. Sedangkan, yang harus dilakukan oleh siswa dalam model dilema moral adalah memperhatikan atau mencermati cerita dilematis dari kejadian masyarakat atau yang dibuat oleh guru, mengindentifasi permasalahan dalam dilema moral, aktif dalam mendiskusikan cerita delimatis, mengambil keputusan/sikap terhadap cerita delimatis, mengemukakan pendapat berkaitan delima yang disertai alasan dengan pertimbangan moral, mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan, mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain, menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat.

Aplikasi dalam pembelajaran , instrumen untuk menilai peningkatan dan perkembangan moral Kohlberg terdiri atas situasi, di mana siswa diberi skor menurut aspek mana yang dominan dalam tahapan perkembangan moral ketika memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada pada setiap ceritera dillema moral dengan menggunakan metode Global Scoring Method ( GSM ) yang bertumpu pada skor final untuk setiap ceritera dillema ( Porter, 1972 ; Cohen, 1978 ).

4. Hasil Penelitian yang relevan

1. Hardoko (2004) bahwa penggunaan model moral reasoning dalam pembelajaran PKn SMP di Samarinda melalui penelitian tindakan kelas (PTK) dikatakan siswa memiliki kemampuan untuk membuat pertimbangan moral jika dihadapkan pada situasi yang dilematis

2. Ryan, (2003) Pembelajaran memecahkan masalah dengan menggunakan moral reasoning ternyata memberikan pengaruh iklim belajar dan kemampuan mengemukakan pendapat secara positif serta memberikan dukungan kepada pendidikan karakter pada siswa SMU di Amerika.

3. Harstone & May di Amerika (dalam Downey & Kelly,1976), disebutkan bahwa terdapat korelasi yang rendah antara pengetahuan moral dengan tingkah laku moral anak. Ia menjelaskan bahwa seorang anak yang “tahu itu baik, namun berbuat tidak baik”. Dengan demikian anak bersifat verbalistik. Ia kemudian merekomendasi : “anak harus dididik agar sanggup berpikir untuk dirinya sendiri dan mengambil keputusan moral” melalui proses pendidikan moral yang tidak dogmatis, indoktrinatif serta jauhi sikap guru yang otoriter

5. Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian bahwa model moral reasoning yang implentasinya dalam pembelajaran menggunakan cerita delima moral melalui diskusi kelompok, dapat mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dapat membuat keputusan-keputusan moral. Selain itu, moral reasoning juga mempengaruhi iklim belajar dan kemampuan mengemukakan pendapat secara positif. Dengan demikian, model Moral Reasoning diyakini akan dapat meningkatan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral. Kerangka berpikir tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Penerapan Model Moral Reasoning

Diskusi Dilema Moral

Iklim Belajar & Kelas

Keberanian mengemgemukakan pendapat

Perkembangan Moral Siswa

5. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah : “Dengan menerapkan model moral reasoning maka keberanian siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan pertimbangan moral pada mata pelajaran PKn di SMP Negeri 22 Samarinda meningkat”

F. Metode Penelitian

1. Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada kelas IXA SMP Negeri 22 Samarinda pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada tahun pembelajaran 2008/2009. Kompetensi dasar yang akan diteliti yaitu menjelaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan publik di daerah. Kondisi siswa kelas ini secara akedemik memiliki kemampuan baik, karena kumpulan siswa dari berbagai kelas yang memiliki nilai rata rata di atas 75. Latar belakang sosial ekonomi siswa heterogin. Namun demikian, kelas ini memiliki kelemahan antara lain kurang berani mengemukakan pendapat di depan umum.

2. Waktu Penelitian

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2008 sampai November 2007, dengan perincian sebagai berikut:

1. Tahap persiapan, minggu ketiga Agustus 2008

2. Tahap pelaksanaan, minggu Ke 2 Oktober 2008 sampai November 2008

3. Tahap laporan, minggu ke 3 November sd. Minggu 4 November 2008

3. Variabel dan Difinisi Operasional

Beberapa variabel atau obyek yang akan diteliti serta definisi operasional dalam rangka peningkatan kemampuan siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral dengan pokok bahasan Otonami Daerah yaitu sebagai berikut:

a. Aktivitas siswa dalam pembelajaran moral reasoning adalah banyaknya aktivitas yang dilakukan siswa selama proses belajar mengajar dan diamati dengan instrumen lembar observasi aktivitas siswa (Instrumen 01). Aktivitas siswa yang dimaksud meliputi mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru atau teman, membaca dan mendengarkan cerita delima moral), keberanian mengemukakan pendapat, kemampuan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral, melakukan kerja sama , dan menghargai pendapat.

b. Aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran moral raesoning dalam adalah sejumlah keterlibatan guru selama proses belajar mengajar yang diamati dengan instrumen lembar observasi (Instrumen 02). Aktivitas guru yang dimaksud meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup yaitu memeriksa kesiapan siswa, melakukan apersepsi, menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa, menyajikan informasi tentang materi pelajaran, mendorong berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, mendorong siswa untuk bekerja sama atau berinteraksi dalam diskusi, dan mengelola kegitaan pembelajaran sesuai kaidah pembelajaran moral reasoning)

c. Perkembangan moral siswa adalah tingkat perkembangan moral siswa dilihat dari alasan- alasan yang dikemukakan dari cerita dilema moral berdasarkan 6 tingkatan teori Kohlberg .

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan tiga siklus, dan tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan aktivitas dan kompetensi yang dicapai, berdasarkan perencanaan yang telah didesain sebelumnya. Pengamat melakukan observasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan sebagai bahan diskusi untuk tujuan perbaikan.

Selain itu, juga dilakukan wawancara dengan siswa untuk mengetahui tanggapan siswa tentang model moral reasoning dan kekurangan pelaksanaan moral reasoning dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil belajar (tingkatan perkembangan moral), hasil observasi dan wawancara peneliti melakukan diskusi untuk mengkaji kelemahan guna meningkatkan proses pembelajaran (refleksi).

Secara lebih ringkas prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Beberapa hal yang dilaksanakan dari tiap tahapan adalah :

a. Perencanaan:

Kegiatan ini meliputi pembuatan skenario pembelajaran antara lain menetapkan metode pembelajaran yang berorientasi pada keterlibatan siswa sehingga siswa berani mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan dan pertimbangan moral yaitu menggunakan model pembelajaran Moral Reasoning dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Peneliti menyiapkan cerita moral yang delimatis yang berasal dari kejadian masyarakat atau cerita fiftif.

2. Membuat lembar pengamatan untuk mengamati aktivitas siswa maupun aktivitas guru

b. Pelaksanaan tindakan

Dalam fase ini dilaksanakan proses belajar mengajar, dengan menekankan aspek aktivitas siswa terutama dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan pertimbangan moral .

c. Observasi

Dalam tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan.

d. Refleksi

Data-data yang diperoleh melalui observasi dikumpulkan dan segera dianalisis. Berdasarkan hasil observasi inilah peneliti dapat melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil refleksi ini peneliti dapat mengetahui titik lemah maupun kelebihan sehingga dapat menentukan upaya perbaikan pada siklus berikutnya. Proses ini akan berlangsung tiga siklus, sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

3. Sumber, Jenis, dan Tehnik Pengambilan Data

a. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru dalam proses belajar mengajar

b. Jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi :

1. Hasil observasi (aktivitas siswa dan guru)

2. Hasil wawancara (Tanggapan tentang model moral reasoning)

3. Hasil Kerja Siswa (Tingkatan perkembangan moral siswa)

c. Tehnik Pengumpulan Data

Tehnik Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Observasi dukumen, dan Wawancara

4. Validitas Data

Validitas ini dimaksudkan sebagai pembuktian bahwa data yang diperoleh peneliti sesuai dengan yang benar-benar terjadi di lapangan dan sesungguhnya. Dalam penelitian ini digunakan democratic validity, artinya validitas ini berhubungan dengan tingkat kebenaran penelitian kolaboratif dan menerima masukan-masukan yang multiple (Burns, 1999: 161).

Selain pembuktian data dengan cara Burns, penelitian ini juga menggunakan triangulasi, yaitu suatu cara yang paling umum dan terbaik untuk mengecek validitas data. Terdapat tiga macam triangulasi yaitu: pemeriksaan yang menggunakan sumber data, metode, dan teori (Moleong, 1991: 176). Triangulasi sumber data digunakan dengan mengecek beberapa sumber data, misalnya dari beberapa orang guru. Metode digunakan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara maupun dokumen. Sedangkan teori digunakan dengan melakukan kaji ulang setelah tindakan selesai dilaksanakan, mengenai apakah teori yang dipakai sebagai landasan masih sesuatu atau tidak.

5. Teknik Analisa Data

Analisis data dalam penelitian tindakan yaitu sejak tindakan pembelajaran dilaksanakan sampai pada pengembangan dan proses refleksi sampai penyusunan laporan. Teknik analisis data yang digunakan adalah model alur yang terekam dalam catatan lapangan, yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang berlangsung secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 1992: 20).

Reduksi data adalah kegiatan pemilihan data, penyederhanaan data serta transformasi data kasar dari catatan pengamatan. Hasil reduksi berupa uraian singkat yang telah digolongkan dalam suatu kegiatan tertentu. Penyajian data berupa sekumpulan informasi dari hasil rekaman pembelajaran dan pengamatan yang disusun, secara kolaborasi antara peneliti, guru dan siswa, sehingga mudah dipahami makna yang terkandung di dalamnya. Penarikan kesimpulan juga dilakukan secara kolaborasi yaitu dari peneliti dan guru serta subyek didik agar hasil lebih bermakna untuk peningkatan pembelajaran berikutnya, kemudian diadakan verifikasi untuk memperoleh kesimpulan yang kokoh, dengan cara diskusi bersama mitra kolaborasi.

4. Indikator Kinerja

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini apa bila guru dapat melaksakanakan pembelajaran dengan baik diikuti dengan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar mengajar, dan setelah pelaksanaan belajar mengajar siswa dapat menunjukan unjuk kerja yang positif. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terutama pada keberanian siswa mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan dan pertimbangan moral.

G. Jadwal Penelitian

H. Personal Penelitian

Jumlah Personal Peneliti 1 orang.

Nama : Mulyadi, M.Pd.

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pangkat/Jabatan : Pembina/Guru

Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan

Lembaga/Sekolah : SMP Negeri 22 Samarinda

Pengalaman Penelitian:

: 1. Skripsi (1998) : Peran Guru Menunjang Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah

2. Tesis (2003) : Penanaman Nilai Demokrasi Melalui Pembelajran PPKn

3. PTK (1999) : Meningkatkan Aktivitas Siswa dengan Model VCT (Value crarification technik) pada Mata Pelajaran PPKN

I. Lampiran

1. Daftar Pustaka

Banks, J.A. 1985. Teaching strategies for the social studies. New York: Longman

Burns, Anne. 1999. Collaborative action research for English language teachers. Cambridge: Cambridge University Press.

Elis, J. L. 1989. Moral education: secular and religious. Florida: Robert E. Krieger Publishing Co., In

Fraenkel, J.R. 1977. How to teach about values: an analytic approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Goleman, D. 2003. Intelegensi Emosional. Alih bahasa : Hermaya, T. Jakarta : P.T.

Gramedia Pustaka Utama.

Hardoko, A. 2007. Pengembangan Model Kombinasi Moral Reasoning Kooperatif PKn Pada Siswa SMP Berbeda Jenis Kelamin Serta Pengaruh Implementasinya Terhadap Kematangan Moral Siswa. Samarinda. Universitas Mulawarman

Hersh, R. et al. 1982. Models of Moral Education. New York : Longman

Kohlberg, L. 1971. Stages of moral development as a basis of moral education. Dlm. Beck, C.M., Crittenden, B.S. & Sullivan, E.V.(pnyt.). Moral education: interdisciplinary approaches: 23-92. New York: Newman Press.

Kohlberg, L. 1971. Moral Education of Psychological View ( dalam Lee C. Deighton

: The Encyclopedia of Education, Vol 6. The Macmillan Company.

Kohlberg, L. 1977. The cognitive-developmental approach to moral education. Dlm. Rogrs, D. Issues Lungdren, L. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. New York: McGraw Hill Companies.

Mathew, M. B. & Hoberman, A. M. 1984. Qualitative data analysis. London New Delhi : Sage Publications Beverly Hills.

Moleong, L. J. 2001. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Reimer, J. et al. 1979. Promoting moral growth from piaget to kohlberg. New york & London: Longman Inc.

Ryan, K. 2003. Character Education: Our High School’s Missing-Link, Educational. Week. http:/www.edweek.org/ew. Diakses 12 Nopember 2004

Roestiyah. 1982 . Masalah masalah ilmu keguruan. Jakarta: Bina Aksara.

Superka, D.P. 1973. A typology of valuing theories and values education approaches. Doctor of Education Dissertation. University of California, Berkeley.

Superka, D.P., Ahrens, C., Hedstrom, J.E., Ford, L.J. & Johnson, P.L. 1976. Values education sourcebook.Colorado: Social Science Education Consortium, Inc.

Thompson, M., McLaughlin, C.W., & Smith, R.G. 1995. Merril Physical Science Teacher. Wraparound Edition. New York: Glencoe McGraw-Hill

Windmiller, M. 1976. Moral development. Dlm. Adams. J.F. (pnyt.). Understanding adolescence: current developments in adolescent psychology: 176-198. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Zakaria,T. R. 2000. Pendekatan pendekatan pendidikan nilai dan implementasi dalam pendidikan budi pekerti. http:// www.pdk.go.id./jurnal/26/htm. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 26, Diambil pada tanggal 30 Maret 2002.

sumber : mulyaihza dan Ainamulyana

Klick «« Artikel Selengkapnya »»

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Think Pair Share

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

Keterkaitan antara Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau sering disebut “Kurikulum 2004” dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ialah jika KBK merupakan suatu desain kurikulum yang dikembangkan berdasarkan seperangkat kompetensi tertentu, yang terdiri atas Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator, dan Materi Pembelajaran, sedangkan KTSP pada dasarnya KBK yang dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat pada KBK.

Standar isi dan standar kompetensi lulusan yang kemudian dioperasionalkan ke dalam bentuk KTSP dilaksanakan mulai tahun pembelajaran 2006/2007. Sekolah boleh belum melaksanakan KTSP pada tahun pembelajaran 2009/2010 dengan izin dari Menteri Pendidikan Nasional. Sekolah yang sudah melaksanakan uji coba KBK / Kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat melaksanakan KTSP secara serentak pada seluruh tingkat kelas mulai tahun pelajaran 2006/2007 (Permen Diknas No. 24 tahun 2006 pasal 2).

Kompetensi yang harus dimiliki siswa mencakup ranah kognitif, efektif dan psikomotorik. Terkait dengan ranah kognitif, pembelajaran diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa, yang meliputi kemampuan berpikir kritis, aplikatif, evaluasi. Sedangkan ranah efektif meliputi sikap antara lain, bermoral jujur, disiplin, konsisten, dan ranah psikomotorik meliputi antara lain trampil, cakap, cekatan.

KTSP dikembangkan berdasarkan pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.

2. Beragam dan terpadu. Beragam artinya KTSP disusun sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Terpadu artinya ada keterkaitan antara muatan wajib, muatan lokal, dan pengembangan diri dalam KTSP.

3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan masa kini dan masa datang.

5. Menyeluruh dan berkesinambungan. Menyeluruh artinya KTSP mencakup keseluruhan dimensi kompetensi dan bidang kajian keilmuan. Berkesinambungan artinya KTSP antarsemua jenjang pendidikan berjenjang dan berkelanjutan.

6. Belajar sepanjang hayat.

7. Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.

Selain itu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut pembelajaran yang bukan berpusat pada guru, tetapi pada siswa, serta pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka seorang guru harus mampu mengemas model pembelajaran yang membuat siswa tidak tertekan, aktif, kreatif baru, senang.

Pada kenyataannya pembelajaran yang dilakukan masih menggunakan model pembelajaran tradisional yaitu hanya dengan ceramah saja, sehingga pembelajaran lebih berpusat pada guru, dan siswa pasif karena siswa tidak dilibatkan untuk ikut mengkonstruksi ilmu yang diperolehnya akibatnya ilmu kurang bermakna. Oleh karena itu perlu dicoba untuk diterapkan satu model pembelajaran yang dimungkinkan dapat meningkatkan kualitas belajar yang membuat siswa lebih aktif, kreatif berpikir kritis dan senang. Model pembelajaran itu adalah model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share. Model pembelajaran tersebut memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit dengan memberikan waktu kepada siswa agar lebih banyak berpikir untuk menjawab pertanyaan atau masalah dan menekankan saling membantu satu sama lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Dengan Pendekatan Think Pair Share Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran IPS (Ekonomi) Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan”.

B. Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan dilakukan pemecahannya melalui kegiatan penelitian ini perlu dipertegas melalui rumusan masalah secara operasional sesuai dengan lingkup penelitian, yaitu sebagai berikut :

“Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan ?” Secara lebih rinci rumusan masalah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan?

2. Bagaimanakah prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan?

3. Bagaimanakah meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) dengan menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian mempunyai tujuan sebagai berikut :

1. Ingin mendeskripsikan dan menganalisis tentang penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan.

2. Ingin mendeskripsikan dan menganalisis tentang prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan.

3. Ingin mendeskripsikan dan menganalisis tentang upaya meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) dengan penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan banyak memberi manfaat :

  1. Bagi penulis/guru

a) Sebagai bahan masukan untuk lebih dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai/tepat dengan materi yang hendak disampaikan dan diharapkan akan mampu memperoleh hasil yang baik, khususnya pada pembelajaran bidang studi IPS (Ekonomi) yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Wilangan.

b) Sebagai bahan masukan untuk lebih dapat meningkatkan mutu hasil pembelajaran IPS (Ekonomi), khususnya di SMP Negeri 1 Wilangan.

  1. Bagi guru

Penggunaan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share diharapkan dapat dijadikan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dalam menyampaikan materi mata pelajaran Ekonomi dan mata pelajaran lainnya.

  1. Bagi sekolah

Sebagai bahan masukan untuk lebih dapat meningkatkan mutu hasil pembelajaran IPS (Ekonomi), khususnya berkenaan dengan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

  1. Bagi Lembaga Pengembang Bidang Pendidikan

Dapat menambah wacana keilmuan di bidang pendidikan, terutama berkenaan dengan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Pembelajaran kooperatif

Ibrahim, dkk (2005:3) mengemukakan bahwa ”pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menuntut kerja sama siswa dan ketergantungan dalam struktur tugas, ujian dan hadiah.”

Berdasarkan pengertian di atas dapat diambil simpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kelompok dalam mencapai tujuan.

Agar pembelajaran kooperatif lebih efektif, perlu ditanamkan unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif. Menurut Ibrahim (2005,6) unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut:

a. Siswa harus dapat memiliki persepsi bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.

b. Siswa bertanggung jawad terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya seperti terhadap dirinya sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.

c. Siswa dalam kelompok harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.

d. Siswa haruslah membagi tugas dan juga tanggung jawab yang sama besarnya diantara para anggota kelompok.

e. Siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi anggota kelompok.

f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

g. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individu materi dalam kelompok kooperatif.

2. Konsep pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Menurut Salvin (1995), pembelajaran kontruktivisme dalam pengajaran menerapkan metode pembelajaran kooperatif secara ektensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan konsep-konsep tersebut.

3. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif

Ada empat unsur penting dalam menjalankan pembelajaran kooperatif, yaitu :

a. Saling ketergantungan positif, dalam proses pembelajaran guru menciptakan suasana belajar yang kebergantungan antara sesame, dalam hal (i) Pencapaian tujuan pembelajaran; (ii) Proses pembelajaran dikelas; (iii) Menyelesaikan pekerjaan belajar; (iv) Sumber atau bahan belajar; (v) Berperan proses pembelajaran.

b. Interaksi tatap muka, dalam belajar kelompok, siswa dapat melakukan dialog dengan sesame maupun dengan guru yang berhubungan dengan materi yang dipelejari, dengan interaksi ini, siswa diharapkan dapat diproduktif, kreatif, dan inovatf dalam pembelajaran.

c. Akuntabilitas individu, walaupun proses pembelajaran kooperatif ini menekankan kepada belajar kelompok, namun proses penilaian dalam pembelajaran kooperatif dilakukan dalam rangka melihat kemajuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran yang telah dipelajari. Hasil penilaian tersebut disampaikan guru kepada kelompok, agar anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan, dan yang dapat memberi bantuan. Nilai kelompok didasarkan oleh rata-rata hasil belajar semua. Oleh karena itu, tiap anggota kelompok harus memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompoknya.

d. Ketrampilan menjalin hubungan, penerapan pembelajaran kooperatif dapat menciptakan dan meningkatkan ketrampilan menjalin hubungan antar pribadi, kelompok dan kelas.

4. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif ditandai oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan. Siswa bekerja dalam situasi semangat pembelajaran kooperatif atau membutuhkan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas.

Menurut Ibrahim (2005:67), adapun ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan suatu materi belajarnya.

b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah.

c. Bilaman mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda.

d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.

5. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Menurut Ibrahim (2005:7), pembelajaran kooperatif memiliki tiga tujuan, yaitu ”hasil belajar akademik, penerimaan tehadap perbedaan individu dan pengembangan keterampilan sosial.”

1) Hasil belajar akademik

Pembelajaran kooperatif ini bertujuan untuk meningkatkan kegiatan atau aktivitas siswa dalam tugas-tugas akademik dan meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik yang berhubungan dengan hasil belajar.

2) Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan pembelajaran kooperatif disini adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bekerja sama tanpa membedakan kemampuan/keahlian sehingga tercipta saling ketergantungan satu sama lain dan belajar untuk menghargai pendapat orang lain.

3) Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan pembelajaran kooperatif disini adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi juga berguna untuk menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kritis dan membantu teman.

6. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif

Menurut Meini Sondang (2004:4) langkah-langkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

Tabel 1

Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif

Fase

Tingkah Laku Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa.

Fase 2

Menyajikan informasi.

Fase 3

Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar.

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasikan atau lewat bahan bacaan.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membentuk setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase 5

Evaluasi.

Fase 6

Memberikan penghargaan.

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil individu dan kelompok.

Sumber : Ibrahim (2005 : 10)

B. Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Think Pair Share

1. Pengertian

Think pair share dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Univertas Maryland pada tahun 1985. Ia mengungkapkan bahwa think pair share merupakan model pembelajaran yang dapat mengganti suasana pola diskusi di dalam kelas yaitu dengan memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk berpikir secara individu, bekerja sama dengan teman lain dan saling berbagi satu sama lain.

2. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share

Dalam bukunya Ibrahim (2005:26-27) langka-langkah pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share yang digunakan Frank Lyman dkk di Universitas Maryland adalah sebagai berikut :

Langkah 1 : Thinking (berpikir). Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bagian dari waktu belajar.

Langkah 2 : Pairing (berpasangan). Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang sudah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal, guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

Langkah 3 : Sharing (berbagi). Guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif dilakukan secara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

3. Teori yang Melandasi Pembelajaran

a) Teori Motivasi

Dalam bukunya Nur, M(2003 : 2), ”motivasi dalam belajar sangat penting dimiliki oleh siswa. Siswa yang memiliki keinginan atau motivasi untuk belajar, dapat saja belajar tentang segala sesuatu.”

Menurut teori motivasi, tiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang didorong oleh sesuatu kekuatan dari dalam diri sesorang untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, motivasi dipandang sebagai suatu proses dalam diri individu yang menyebabkan individu tersebut melakukan sesuatu.

Sardiman (2005:103) mengemukakan :

”Motivasi dapat diklasifikasikan: dilihat dari pembentukannya yakni motivasi bawaan dan motivasi yang dipelajari, menurut pembagian Woodworth dan Marquis terdiri dari: motivasi karena kebutuhan organis, motivasi darurat dan motivasi objektif, ada juga motivasi jasmaniah dan rohaniah. Di samping itu ada motivasi intrinsik dan ekstrinsik”.

Motivasi bawaan adalah motivasi yang dibawa mulai lahir, misalnya dorongan makan, minum. Motivasi yang dipelajari adalah motivasi yang timbul karena dipelajari, misalnya dorongan belajar suatu cabang ilmu pengetahuan. Motivasi karena kebutuhan organis: misalnya kebutuhan untuk makan, minum, bernafas. Motivasi darurat misalnya: dorongan untuk menyelamatkan diri, membalas. Motivasi obyektif adalah Motivasi yang menyangkut kebutuhan untuk eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motivasi jasmaniah, misalnya: refleks, insting otomatis. Motivasi rohaniah misalnya: kemauan. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam setiap individu. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar.

Menurut Nur, M (2003 : 44), ”motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang berasal dari individu itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang berasal dari luar individu.”

Contoh motivasi intrinsik adalah seorang siswa dengan senang hati belajar ekonomi karena merasa sangat berguna bagi siswa tersebut. Hal ini berarti siswa tersebut dimotivasi oleh suatu kebutuhan yang datangnya dari dalam diri siswa tersebut.

Sedangkan contoh motivasi ekstrinsik dapat berupa pujian, nilai, pengakuan, hadiah atau penghargaan orang lain. Misalnya seorang siswa sekuat tenaga berusaha untuk mencapai nilai ujian yang terbaik karena ingin dipuji oleh teman-teman dan gurunya.

Pada pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share, pujian dan pemberian skor merupakan bentuk motivasi ekstrinsik yang mendorong siswa untuk melakukan usaha belajar dan mencapai hasil belajar.

b) Teori Konstruktif

Menurut Brooks, 1990; Leinhardt, 1992; Brown, et al, 1989 dalam Nur, M dan Wikandari, P.R (2004:2) teori konstruktivis adalah ”ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu milik sendiri.” Berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang siswa harus melihat secara terus-menerus memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi.

Dalam bukunya Nur, M dan Wikandari, P.R. (2004:3), teori pembelajaran konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vygotsky. Dimana keduanya menekankan bahwa :

”Perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang dipahami diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam memahami informasi-informasi baru dan menggunakan belajar kelompok untuk mengupayakan perubahan konseptual karena adanya perbedaan kemampuan anggota kelompok”.

Piaget juga mengemukakan bahwa siswa secara aktif bertanggung jawab dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri sebagai pengembangan intelektualnya. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus-menerus tumbuh dan berubah pada siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Seperti halnya Piaget, Vygotsky percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi saat individu berhadapan dengan pengalaman baru yang menantang dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh ini. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu mengaitkan pengetahuan dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya dan membangun pengertian baru. Sementara itu keyakinan Vygotsky berbeda dengan keyakinan Piaget dalam beberapa hal penting. Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar belakang sosial dan budaya, sedangkan Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan teman lainmemacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

c) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Keterkaitan antara Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau sering disebut “Kurikulum 2004” dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ialah jika KBK merupakan suatu desain kurikulum yang dikembangkan berdasarkan seperangkat kompetensi tertentu, yang terdiri atas Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator, dan Materi Pembelajaran, sedangkan KTSP pada dasarnya KBK yang dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat pada KBK.

Standar isi dan standar kompetensi lulusan yang kemudian dioperasionalkan ke dalam bentuk KTSP dilaksanakan mulai tahun pembelajaran 2006/2007. Sekolah boleh belum melaksanakan KTSP pada tahun pembelajaran 2009/2010 dengan izin dari Menteri Pendidikan Nasional. Sekolah yang sudah melaksanakan uji coba KBK/ “Kurikulum 2004“ secara menyeluruh dapat melaksanakan KTSP secara serentak pada seluruh tingkat kelas mulai tahun pelajaran 2006/2007 (Permen Diknas No. 24 tahun 2006 pasal 2).

KTSP disusun sebelum tahun pembelajaran dimulai. KTSP disusun bersama-sama oleh guru, komite sekolah/yayasan, konselor (guru BK/BP), dan narasumber, dengan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota, dan disupervisi oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.

KTSP dikembangkan berdasarkan pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :

a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.

b. Beragam dan terpadu. Beragam artinya KTSP disusun sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Terpadu artinya ada keterkaitan antara muatan wajib, muatan lokal, dan pengembangan diri dalam KTSP.

c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan masa kini dan masa datang.

e. Menyeluruh dan berkesinambungan. Menyeluruh artinya KTSP mencakup keseluruhan dimensi kompetensi dan bidang kajian keilmuan. Berkesinambungan artinya KTSP antarsemua jenjang pendidikan berjenjang dan berkelanjutan.

f. Belajar sepanjang hayat.

Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.

KTSP berlaku selama masih sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di satuan pendidikan yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang untuk memenuhi kepentingan lokal, nasional, dan tuntutan global.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyebutkan standar kompetensi untuk pelajaran IPS (Ekonomi) adalah kemampuan memahami pelaku-pelaku ekonomi dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Sedangkan kompetensi dasar untuk materi transaksi jual beli adalah kemampuan menghitung harga pokok, harga jual, rugi/laba usaha ekonomi dan indikatornya adalah :

a. Menghitung harga pokok, harga jual dan rugi/laba dalam perdagangan barang.

b. Menghitung harga pokok, harga jual dan rugi/laba barang produksi.

c. Menghitung jual beli angsuran.

d) Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills)

Kecakapan hidup (life skills) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

Tujuan umum pendidikan kecakapan hidup adalah memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi peserta didik dalam menghadapi perannya di masa mendatang secara menyeluruh.

Tujuan khusus pendidikan kecakapan hidup adalah :

1. Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah, misalnya narkoba dan sosial.

2. Memberikan wawasan yang luas mengenai pengembangan karir peserta didik.

3. Memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

4. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas (broad-based education).

5. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di lingkungan sekolah dan di masyarakat sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.

Kecakapan hidup yang dikembangkan melalui pembelajaran:

1. Kecakapan personal, meliputi :

Beriman kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berpikir rasional, memahami diri sendiri, percaya diri, bertanggung jawab, menghargai dan menilai diri.

2. Kecakapan sosial, meliputi :

Kecakapan bekerjasama, menunjukkan tanggung jawab sosial, mengendalikan emosi, berinteraksi dalam budaya lokal dan global, berinteraksi dalam masyarakat, meningkatkan potensi fisik, membudayakan sikap sportif, membudayakan sikap disiplin, membudayakan sikap hidup sehat.

3. Kecakapan akademik, meliputi :

Menguasai pengetahuan, menggunakan metode dan penelitian ilmiah, bersikap ilmiah, mengembangkan kapasitas sosial untuk belajar sepanjang hayat, mengembangkan berpikir strategis, berkomunikasi secara ilmiah, memperoleh kompetensi lanjut akan ilmu pengetahuan dan teknologi, membudayakan berpikir dan berperilaku ilmiah, membudayakan berpikir kreatif, membudayakan berpikir dan berperilaku ilmiah secara mandiri, menggunakan teknologi, menggunakan pengetahuan, dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat.

4. Kecakapan Vokasional meliputi :

Keterampilan yang berkaitan dengan kejuruan (misalnya menjahit, bertani, beternak, dan otomotif), keterampilan bekerja, keterampilan kewirausahaan, keterampilan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keterampilan merangkai alat.

Pendidikan kecakapan hidup diintegrasikan ke dalam beragam mata pelajaran yang ada di tingkat satuan pendidikan. Misalnya, dalam pembelajaran matematika tidak konsep-konsep matematika yang diajarkan, akan tetapi juga kecakapan lainnya seperti bekerjasama dan brkomunikasi.

e) Tingkat Perkembangan Siswa

Menurut Piaget dalam Zuchdi (1997:6) menyebutkan bahwa ”anak pada tahap operasional, anak dapat berpikir logis.” Sesuai dengan perkembangan kognitif, siswa usia SMP berada pada tahap operasional jadi dapat berpikir secara logis, sehingga dalam pelaksanaan pembelajarannya dapat diberikan model-model pembelajaran untuk berpikir.

Sedangkan perkembangan sosial ada pada tahap kooperatif yang pada tahap tersabut ciri-ciri anak adalah dapat bekerja sama dengan kelompoknya, sehingga model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share (berpikir-berpasangan-berbagi) dapat diterapkan pembelajarannya.

C. Penerapan Pembelajaran Koperatif Dengan Pendekatan Think Pair Share Pada Bidang Studi IPS (Ekonomi)

Keberhasilan belajar dapat dicapai manakala ada interaksi sempurna antara siswa dengan lingkungan. Dari hasil kajian teori menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat dipaksakan diberikan kepada siswa, melainkan harus dialami sendiri oleh siswa. Hal ini membuktikan bahwa dalam proses belajar mengajar, siswa harus berpartisipasi aktif. Dengan demikian aktivitas belajar harus ada dan terjadi pada diri siswa selama proses belajar mengajar berlangsung, seperti memperhatikan yang disampaikan guru, dan bisa mengerjakan tugas dengan baik, juga mendiskusikan materi pelajaran yang sekiranya sulit agar tujuan yang diinginkan dapat dicapai.

Sebagaimana diungkapkan di atas bahwa keaktifan anak dalam mengikuti pelajaran IPS (Ekonomi) di dalam kelas sangat diperlukan, hal ini sangat sejalan dengan konsep cara belajar yang nyata (CTL) yang menuntut keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar baik secara fisik maupun emosionalnya, karena IPS (Ekonomi) menuntut siswa untuk lebih banyak membaca, mengerti dan memahami, serta berlatih melakukan penalaran-penalaran di bidang ekonomi.

Dengan demikian jelas, bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut pembelajaran yang bukan berpusat pada guru, tetapi pada siswa, serta pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka seorang guru harus mampu mengemas model pembelajaran yang membuat siswa tidak tertekan, aktif, kreatif baru, senang. Oleh karena itu, model pembelajaran think pair share dimungkinkan dapat meningkatkan kualitas belajar yang membuat siswa lebih aktif, kreatif berpikir kritis dan senang. Model pembelajaran tersebut memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit dengan memberikan waktu kepada siswa agar lebih banyak berpikir untuk menjawab pertanyaan atau masalah dan menekankan saling membantu satu sama lain.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Setting penelitian

Setting Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian dan siklus PTK, sebagai berikut :

  1. Tempat Penelitian

Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang. Adapun pertimbangan penulis mengambil subyek penilitiann tersebut dimana siswa kelas VIII telah mampu dan memiliki kemandirian dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di SMP Negeri 1 Wilangan, Kabupaten Nganjuk dengan pertimbangan Kepala Sekolahnya adalah teman mengajar di perguruan tinggi saya bekerja dan yang menjadi guru yang melaksanaan pembelajaran (tindakan) adalah mantan mahasiswa dan sudah berpengalaman lebih dari 15 tahun mengajar, sehingga memudahkan dalam mencari data, peluang waktu yang luas dan Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran di sekolah tersebut.

  1. Waktu Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan, yakni dari tahap persiapan hingga pelaporan hasil penelitian dilakukan selama 4 bulan, yakni mulai bulan Juni sampai dengan September 2010. Adapun waktu untuk melaksanakan tindakan / pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan pada setengah semester gasal (semester 1) mulai dari siklus I, Siklus II dan Siklus III, yaitu bulan Agustus hingga September 2010. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah dan karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif dikelas.

  1. Siklus PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan melalui 3 (tiga) siklus untuk melihat prestasi belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran IPS (Ekonomi) dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share dalam kegiatan belajar mengajar.

B. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah adalah siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang dengan komposisi perempuan 22 orang dan laki-laki 18 orang.

C. Pendekatan dan jenis Penelitian

Penelitian ini mengandung tindakan yaitu mengefektifkan pembelajaran IPS (Ekonomi) dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan test sebagai instrument kunci. Dengan demikian, penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif.

D. Rancangan Penelitian

Proses penelitian ini merupakan siklus sebagaimana dinyatakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (1992) yang diawali dengan mengembangkan perencanaan, melakukan tindakan sesuai rencana, melakukan observasi terhadap tindakan, dan melakukan refleksi.

Berdasarkan prinsip prinsip penelitian tindakan, prosedur penelitian ini melalui langkah langkah sebagai berikut:

  1. Kegiatan awal

Peneliti mengadakan orientasi tentang latar belakang SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk dan pembelajaran IPS (Ekonomi).

  1. Kegiatan analisis dan temuan .

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan permasalahan.

  1. Merencanakan tindakan

Peneliti bersama guru melakukan : (a) diskusi strategi pembelajaran Bahasa Inggris. (b) menyusun rencana tindakan siklus 1. (c) menyusun rencana pembelajaran siklus 1.

  1. Tindakan Siklus 1

Tahap pembelajaran dengan memanfaatkan dialog dialog meliputi : (a) Membaca dialog. (b) mengartikan dialog. (c) menampilkan dialog

  1. Refleksi siklus 1

Apabila dalam siklus 1 ditemui hambatan, maka disusun siklus 2 sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang masih mengalami hambatan. Pelaksanaan tindakan pada siklus 2 ini berfokus pada refleksi siklus 1.

  1. Kegiatan refleksi siklus 2

Hasil observasi pada kegiatan pembelajaran siklus 2 akan menentukan rencana tindakan siklus berikutnya. Bila masih ada hambatan pada siklus 2 maka akan dibuat rencana tindakan selanjutnya, yaitu siklus 3.

E. Persiapan PTK

Persiapan sebelum Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dan dibuat berbagai input instrumental yang akan dibangun untuk memberikan perlakuan dalam PTK, yaitu remcana pembelajaran yang akan dijadikan PTK, yaitu Standar Kompetensi (SK); Kemampuan memahami pelaku – pelaku ekonomi dalam kegiatan ekonomi masyarakat, dan Kompetensi Dasar (KD); memahami Kegiatan Pokok Ekonomi Masyarakat, selain itu akan dibuat perangkat pembelajaran berupa lembar kerja siswa dan daftar kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen.

F. Data dan Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan adalah data nominal, yaitu mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share dan nilai prestasi belajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi).

Sumber data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri dari beberapa sumber , yakni :

1. Siswa, untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

2. Guru, untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran model kooperatif dengan pendekatan think pair share dan hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar.

3. Teman sejawat, dimaksudkan sebagai sumber data untuk melihat implementasi PTK secara komprohensif dari sisi siswa maupun guru.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data yang relevan, valid dan realibel. Agar memperoleh data yang valid dikumpulkan melalui cara/teknik berikut ini:.

1. Tes Hasil Belajar

Digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa melalui pre test - post test tentang pengetahuan siswa dalam pembelajaran Kegiatan Pokok Ekonomi.

2. Observasi (pengamatan)

Teknik ini digunakan oleh kolaborator (peneliti) untuk mengobservasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan ini peneliti mencatat kejadian-kejadian yang muncul selama proses belajar mengajar.

Teknik observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang keaktifan siswa, respon siswa dan hambatan-hambatan dalam proses belajar-mengajar. Adapun pelaksanaannya dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap guru selama kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share pada pelajaran IPS (Ekonomi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan.

3. Wawancara (interview)

Teknik ini digunakan oleh peneliti dan kolaborator untuk mengetahui respon siswa secara langsung dalam menerima pelajaran dan mengenai hambatan yang timbul selama proses belajar-mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share. Adapun pelaksanaannya dengan melakukan wawancara antara pengamat (peneliti) dan guru, antara guru dan siswa. Pelaksanaan wawancara dilakukan di luar kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pedoman wawancara.

  1. Diskusi

Diskusi antara guru, kepala sekolah dan temansejawat untuk refleksi hasil siklus PTK

  1. Jurnal

Teknik ini digunakan oleh peneliti setiap kali selesai guru mengimplementasikan tindakan. Jurnal tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi diri bagi peneliti untuk mengungkap aspek:

a. respon siswa terhadap penggunaan model pembelajaran think pair share;

b. situasi pembelajaran; dan

c. kekurangpuasan peneliti terhadap pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan.

Selain peneliti, siswa juga membuat jurnal setiap kali mengikuti kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk mengungkapkan:

a. respon siswa (baik yang positif maupun negatif) terhadap penggunaan model pembelajaran think pair share;

b. metode pembelajaran yang disukai siswa; dan

c. kemampuan peneliti dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan penelitian, sebagai berikut:

1. Tes/Ujian : Menggunakan butir soal untuk mengukur hasil belajar siswa.

2. Obsevasi : Mneggunakan lembar observasi untuk mengukur motivasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar IPS (ekonomi).

3. Wawancara : Menggunakan panduan wawancara atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

G. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan dari pelaksanaan siklus PTK dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Sebelum data penelitian dianalisis dilakukan tabulasi data secara kuantitatif berdasarkan hasil tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus. Hasil tindakan pada setiap siklus dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui persentase peningkatan prestasi belajar pada pelajaran IPS (Ekonomi) di kelas VIII SMP Negeri 1 Wilangan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share.

Hasil belajar : Dengan menggunakan analisis nilai latihan dan nilai ulangan harian. Sedangkan implementasi tindakan dalam pembelajaran kooperatif pendekatan think pair share dengan mengalisis tingkat keberhasilannya.

Data disaring melalui proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen yang dirancang untuk penelitian ini. Instrumen meliputi : test hasil belajar, observasi, wawancara dan jurnal.

Untuk memudahkan analisis data yang diperoleh siswa tentang hasil belajar melalui pree-test dan past-test diberi nilai 0-100. data yang diperoleh dalam pengolahan data kemudian dianalisis untuk untuk dilihat rata-rata kelasnya.

1. Menghitung rata-rata nilai yang ditarik 40 siswa

Rumus rata-rata adalah jumlah nilai yang dicapai siswa secara keseluruhan dibagi jumlah siswa.

clip_image003

X = Mean

N = Jumlah siswa

Sn = Jumlah nilai siswa

2. Kriteria nilai yang ditentukan

Nilai 95-100 = istimewa

Nilai 85-94 = baik sekali

Nilai 75-84 = baik

Nilai 65-74 = cukup

Nilai 0-65 = kurang

3. Indikator ketuntasan

Untuk mengetahui ketuntasan belajar digunakan kriteria menurut Depdikbud. (1994) yang dimaksud ketuntasan belajar sebagai berikut :

a. seorang siswa disebut tuntas belajar bila ia telah mencapai daya serap ³ 65% atau menacapai nilai ³ 65%.

b. Suatu kelas disebut tuntas belajar apabila 70% siswa atau lebih dalam kelas mencapai nilai ³ 65%

H. Indikator Kinerja

Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang akan dilihat indikator kerjanya dalam proses pembelajaran dengan model kooperatif pendekatan think pair share, yakni siswa dan guru.

  1. Siswa

Tes : Nilai latihan dan rata-rata nilai ulangan harian

Observasi : Keaktifan siswa dalam proses

  1. Guru

Observasi : Hasil observasi

I. Prosedur Penelitian

Penelitian ini berupa penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan menempuh prosedur sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan Tindakan, meliputi kegiatan tim (dosen, guru, dan kepsek) :

a. Mengadakan sharing ideas dengan guru-guru SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk untuk mendapatkan berbagai pertimbangan dan masukan mengenai penerapan pendekatan proses dalam pembelajaran ekonomi dan mengadakan identifikasi masalah terkait dengan proses belajar mengajar di SMP Negeri 1 Wilangan.

b. Berdassarkan hasil kegiatan identifikasi dan analisis masalah bekerjasama dengan guru dan kepala sekolah, kemudian diadakan rancangan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan penerapan model pembelajaran think pair share yang telah ditetapkan. Dengan demikian penulis akan melaksanakan proses pembelajaran dengan kompetensi dasar memahami kegiatan pokok ekonomi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam dalam mata pelajaran IPS (ekonomi).

Untuk melaksanakan penelitian, maka disusunlah penelitian secara umum yaitu :

1) Menetapkan perencanaan, menentukan tujuan pembelajaran dan tujuan perbaikan pembelajaran.

2) Menetapkan indikator keberhasilan penelitian sesuai KKM, yaitu 70% dari keseluruhan siswa yang menjadi subjek penelitian.

3) Merancang lembar observasi dan menyampaikan materi tindak lanjut.

4) Menyusun kegiatan yang terdiri dari :

a) Memilih bahan yang relevan untuk pelaksanaan model pembelajaran think pair share.

b) Penyiapan atau menyusun perangkat pembelajaran tentang pembelajaran ”Kegiatan Pokok Ekonomi”, yang meliputi silabus, RPP dengan skenario pembelajaran dengan model Think Pair Share (kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan akhir).

c) Memilih metode pembelajaran

d) Memilih alat peraga atau media yang sesuai dengan materi pembelajaran.

e) pengembangan bahan ajar

f) Menyusun alat penilaian (berupa latian soal, pembahasan latian soal, lembar kerja siswa (LKS), dan menyusun soal pre-test dan post-test), untuk mencapai tujuan perbaikan proses pembelajaran.

g) Menyiapkan lembar pengamatan (pedoman observasi) terhadap proses pembelajaran ”Kegiatan Pokok Ekonomi” dengan model pembelajaran think pair share serta pedoman penilaian terhadap prestasi belajar siswa

2. Tahap Implementasi Tindakan (action)

Dalam pelaksanaan PTK ini, mekanisme kerjanya diwujudkan dalam bentuk siklus (direncanakan 3 siklus), yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi. Karena pendekatan think pair share ini meliputi 6 fase, maka pelaksanaan keenam fase tersebut dianggap sebagai satu siklus. Pelaksanaan keenam fase tersebut dianggap sebagai satu siklus.

1) Rancangan siklus I

a) Tahap perencanaan, mencakup kegiatan menyiapkan perngkat pembelajaran dan merancang skenario pembelajaran ”Kegiatan Pokok Ekonomi” dengan pendekatan think pair share 6 fase untuk penerapan model pembelajaran think pair share.

b) Tahap pelaksanaan, Guru melaksanakan tindakan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun dengan mengadakan pembelajaran yang dalam satu siklus ini ada 2 kali tatap muka, yang masing-masing 2 x 40 menit, sesuai skenario pembelajarn dan RPP pada siswa Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan oleh guru kelas, sedangkan peneliti lain (dosen dan kepala sekolah) melakukan observasi terhadap proses pembelajaran dan wawancara kepada beberapa siswa setelah pembelajaran berakhir.

c) Tahap observasi, ketika guru melaksanakan tindakan, dosen (peneliti) dan kepala sekolah sebagai kolaborator melakukan pengamatan terhadap situasi yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung (aktivitas guru dan siswa). Observasi diarahkan pada poin-poin dalam pedoman yang telah disiapkan peneliti. Selain itu, untuk memperoleh data yang akurat, peneliti juga melakukan wawancara dengan para siswa mengenai poin-poin tertentu yang dirasa perlu ditanyakan pada siswa untuk mendapatkan data yang lebih lengkap. Hal-hal yang perlu diamati dan dicatat oleh kolaborator dalam lembar observasi, di antaranya: (a) respon siswa, (b) perubahan yang terjadi selama proses pembelajaran; (c) keterampilan guru dalam menggunakan model pembelajaran think pair share, baik dalam tindakan awal, tindakan inti, maupun tindakan akhir; dan (d) kesesuaian antara rencana dan implementasi tindakan.

d) Tahap analisis dan refleksi, dilakukan oleh dosen, guru, dan kepala sekolah dengan cara menganalisis hasil pekerjaan siswa, hasil observasi, serta hasil wawancara. Hasil analisis data dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui efektiktivitas penggunaan model pembelajaran think pair share. Langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator (Dosen dan Kepala Sekolah). Hasil analisis data tersebut juga sangat penting dan berharga sebagai bahan untuk melakukan refleksi bersama kolaborator dan guru. Jika penggunaan model pembelajaran think pair share dinilai belum memberikan hasil yang signifikan, peneliti (dosen dan kepala sekolah) memberikan masukan dan bersama-sama dengan guru melakukan langkah-langkah perbaikan untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. Peneliti (dosen), guru dan kepala sekolah melakukan replanning untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil refleksi bersama kolaborator. Dengan demikian, analisis dilakukan terhadap proses dan hasil pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis tersebut akan diperoleh kesimpulan bagian fase mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan fase mana yang telah memenuhi target. Pada saat melakukan refleksi, kolaborator memberikan masukan kepada peneliti berdasarkan hasil pengamatan yang telah dicatat untuk melakukan langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. Selanjutnya guru melaksananakan tindakan pada siklus II sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun.

Penelitian tidak perlu dilakukan lagi pada siklus berikutnya jika hasil analisis data menunjukkan pengingkatan yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan, yaitu 70% (28 siswa) dari 40 siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Wilangan Kabupaten Nganjuk.

2) Rancangan siklus II dan III

Pada siklus kedua dan ketiga dilakukan tahapan-tahapan seperti pada siklus pertama tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus pertama (refleksi), sehingga kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus pertama tidak terjadi pada siklus kedua, begitru juga dengan siklus III. Dalam hal ini peneliti menganalisis data hasil penggunaan model pembelajaran think pair share. Hasil analisis data dibandingkan dengan hasil tes siklus I untuk mengetahui efektiktivitas penggunaan model pembelajaran think pair share. Langkah selanjutnya adalah melakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator. Jika penggunaan model pembelajaran think pair share dinilai sudah memberikan hasil yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan, penelitian dinyatakan selesai dan tinggal melakukan tindakan pemantapan kepada siswa (subjek penelitian). Namun, jika hasil analisis data belum menunjukkan hasil yang signifikan, peneliti kembali melakukan refleksi bersama guru untuk merencanakan tindakan perbaikan (replanning) yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati., dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Ibrahim, Muslimin., dkk 2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University

Press Unesa.

Hasibuan J.J. & Moedjiono, 2000, Proses Belajar Mengajar, Ban­dung: PT. Remaja Rosda Karya.

Lexy, J, Moleong, Dr, MA, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung Remaja Rosdakarya.

MGMP SMP Nganjuk, 2004, Silabus dan Penilaian Kurikulum SMP Bidang Studi IPS (Ekonomi), Nganjuk : MGMP SMP Nganjuk.

Mulyasa, E, Dr, M, Pd, 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Bandung Remaja Rosdakarya.

Nana Sugiana dan Ibrahim, 1989, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru.

Nur Muhamad., Wikandari, Prima Retno. 2004. Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Surabaya : University Press Unesa.

Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sondang Meini. 2004. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Bintek Pembelajaran Inovatif Bagian Proyek Peningkatan Pendidikan Dasar IV Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur 2004.

STKIP PGRI. 2007. Pedoman Penulisan dan Ujian Skripsi. Nganjuk : STKIP PGRI.

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
 

Pengikut

Random Posting »

Copyright © 2010 - All right reserved by KTI PTK Collections | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.